Rabu, 30 Juli 2014

5 Of My Moodbooster

Moodbooster versi aku adalah...

Jreng jreeeng jreeeng...! 😄

1. Berpikir positif dan mendekatkan diri pada Allah.
Nggak ada yang bisa ngalahin rasa tenang saat hati sedang dekat dengan-Nya. Setiap kali mencoba untuk berpikir positif dan ikhlas, rasanya hidup jadi lebih ringan dan semangat pun balik lagi pelan-pelan. Ini moodbooster yang paling ampuh.


2. Makan!
Iya, makan. Hehehe. Terutama makanan pedas — makin pedas, makin ada tantangannya! Apalagi kalau pakai sambal khas rumah, duh... maknyusss. Nggak tau kenapa, tapi setiap habis makan enak, mood langsung balik 100%.


3. Ngemil.
Mirip-mirip sama makan sih, tapi versi santainya. Hahaha. Kadang cemilan kecil aja udah cukup buat balikin senyum.
Cemilan favoritku:

  • Tahu Isi

  • Ice Cream
  • Kripik Bawang
 
  • Snack



  • Sandwich Goreng
  • Batagor
  • Lumpia
  • Coklat 
Duhh banyak ya! Hehehe. Maaf buat cemilan-cemilan lainnya yang kelupaan ditaruh di blog ini fotonya. :D
(Foto-foto di atas diambil dari internet ya, bukan hasil jepretan sendiri.)

4. Me time.
Kadang yang kita butuhin cuma waktu buat duduk sendiri. Nggak ngapa-ngapain, cuma merenung dan introspeksi. Ngevaluasi apa yang lagi dirasa, mengurai benang kusut di kepala, dan mengikhlaskan yang perlu dilepas. Me time itu bukan berarti kesepian — tapi cara menyayangi diri sendiri.


5. Masak.
Nggak jago-jago amat sih, masih suka nyontek resep dari mama, browsing internet, dan buka-buka buku resep. Tapi entah kenapa, tiap kali berhasil masak satu menu (walau sederhana), rasanya tuh... bahagia! Kayak punya pencapaian kecil tapi bermakna.



---

Sesuai judulnya, 5 Of My Moodbooster, jadi aku tulis 5 aja dulu, ya. Padahal sih sebenernya masih banyak banget yang bisa bikin aku happy, kayak ngobrol-ngobrol santai, shopping di toko buku, chatting, dan sharing cerita. Tapi kalau ditulis semua… takutnya postingan ini berubah jadi sesi curhat. 😅

Sampai sini dulu ya, semoga kamu juga punya moodbooster andalanmu sendiri. 💖
Kalau boleh tahu, apa sih moodbooster kamu?

Mengajak Untuk Lebih Bersyukur

Dengerin lagu Maliq & D'Essentials yang judulnya “Dunia Sekitar” tuh bikin hati kayak diremuk pelan-pelan, tapi dengan cara yang halus dan menenangkan. Lagu ini bikin aku terharu... karena aku jadi tersadar: betapa seringnya aku ngeluh cuma karena hal-hal kecil.

Ini kutipan liriknya yang nyentil banget:

> Pernahkah kau berfikir hidupmu tidak adil
Karna engkau merasa kecewa karena hal yang kecil
Kau anggap besar seakan hidup ini berakhir
Tidakkah kau merasa harusnya kau berfikir
Masalahmu yang kecil tidak sebanding
Dengan apa yang dirasakan banyak manusia di luar sana



Bagian ini bikin aku diem. Nge-freeze. Langsung merasa, “Iya ya… aku terlalu gampang mengeluh.”

Terus masuk ke bagian reff-nya:

> Cobalah kau melihat
Dunia di sekitar
Dengan mata hatimu…



Masya Allah… ngena banget. Kadang kita terlalu sibuk ngeliat hidup orang lain, sampai lupa kalau hidup kita sendiri udah penuh berkah. Lagu ini tuh kayak ngingetin, “Hey, kamu itu beruntung. Banyak orang di luar sana yang nggak punya apa yang kamu punya, tapi mereka tetap senyum.”

Aku paling suka lagu yang liriknya punya makna. Dan Maliq & D’Essentials berhasil banget bikin lagu yang bukan cuma enak di telinga, tapi juga ngasih tamparan halus buat hati. Lagu ini ngajarin buat lebih bersyukur. Nggak semua orang punya hidup yang layak. Bahkan ada yang berharap uluran tangan, tapi nggak kunjung datang. Tapi lihat... mereka tetap tersenyum.

> “Jangan ketutup sama kebahagiaan orang lain,
yang bikin kamu ngerasa hidup ini menyedihkan.”
Astaghfirullahal’adzim.



Aku belajar... mulai sekarang, jangan mudah mengeluh. Karena sering banget aku ngerasa berat di awal, padahal ending-nya penuh hikmah. Aku harus ingat: semua ada waktunya.

Sekarang, aku lagi berusaha lebih memahami makna setiap kejadian. Lebih khusyuk dalam ibadah. Lebih banyak berbuat baik. Lebih sabar. Lebih bersyukur.

Pokoknya… lebih lebih dan lebih baik lagi dalam hal-hal positif.

Minggu, 27 Juli 2014

Renungan Untuk Diri Di Penghujung Ramadhan

Nggak terasa, Ramadhan tahun ini hampir berlalu. Alhamdulillah, selama sebulan penuh aku nggak pernah kebablasan sahur. Di tengah hiruk-pikuk gotong royong di rumah—menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut lebaran besok—aku masih menyempatkan diri untuk merenung dan introspeksi.

Menepi sejenak dari keramaian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergaung di dalam hati:
Ingin jadi apa aku?
Hal apa yang sungguh-sungguh aku inginkan di masa depan?
Apa yang membuat aku merasa cukup, tenang, nyaman… dan sungguh bahagia?
Dan apa yang bisa aku berikan untuk orang-orang yang aku sayangi, dan yang menyayangiku sepenuh hati?

Satu hal yang pasti: aku ingin terus berusaha, menempuh setiap langkah dengan sungguh-sungguh. Menghasilkan hal-hal yang tak biasa-biasa saja, dan menebar lebih banyak senyuman di wajah orang lain.

Aku tahu, Tuhan selalu menyisipkan hikmah di balik setiap cerita hidup yang dituliskan-Nya untukku. Maka aku ingin belajar lebih banyak bersyukur, lebih banyak bersabar, dan lebih giat memperbaiki ibadah yang masih sangat biasa-biasa saja ini.

Segalanya berubah. Waktu mengubah banyak hal—termasuk aku.
Dan aku berharap, perubahan itu selalu menuju arah yang lebih baik.
Banyak orang baru hadir dalam hidupku. Tapi tak sedikitpun mengurangi rasa sayangku kepada mereka yang lebih dulu hadir. Aku ingin terus belajar untuk tetap menghargai, tetap menyayangi. Karena aku percaya: pertemuan adalah takdir yang Tuhan atur dengan penuh pertimbangan. :)

Besok, lebaran datang.
Seperti biasa, saatnya bersilaturahmi, saling memaafkan, dan menyambung kembali tali yang mungkin sempat renggang.
Dan bagiku, mendengar gema takbir berkumandang… adalah salah satu nikmat paling indah di dunia.
Alhamdulillah.

Semoga Allah mempertemukan kita lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Aamiin.
Sampai jumpa lagi, Ramadhan.

Rabu, 09 Juli 2014

Tiada Jalan

Ada hal yang lebih menyakitkan dibandingkan cinta bertepuk sebelah tangan, yaitu memiliki perasaan yang sama tetapi tak kunjung temukan jalan untuk bersama-sama.

Namaku Tania, aku dilahirkan delapan belas tahun silam di Bogor. Saat ini aku tengah sibuk dengan kuliah juga pekerjaan sampinganku sebagai karyawan di salah satu distro. 

Aku tipekal wanita yang suka kejelasan, mudah jenuh, kurang percaya cinta, dan aku sulit mempercayai orang yang berkata cinta, aku juga tidak mudah mendefinisikan rasa yang hadir di hatiku sebagai cinta. Tapi rasa yang sekarang ini benar-benar memaksaku untuk bertahan dalam ketidakjelasan, untuk bersabar meski jenuh, untuk mempercayai bahwa dia benar cinta, dan sudah mendefinisikan rasa dihatiku sebagai cinta. Tapi sekali lagi ini menyakitkan, tentang hubungan yang terombang-ambing karena dua orang pemilik hati tak kunjung temukan jalan untuk bersama. 

Awalnya semua berjalan seperti yang ku inginkan. Aku dan dia berkenalan di kampus, berteman lalu mulai dekat, saling menikmati rasa yang hadir yang mungkin cinta. Namun, saat kami berdua mulai meyakini rasa yang hadir ini sebagai cinta, kami malah tersesat dalam sebuah hubungan dimana kami tak bisa saling menuntut, mengapa? Karena Tio telah mempunyai seorang istri. Ahh ini rumit, benar-benar rumit.
 
Mahasiswa dan mahasiswi lain di kampus kami tak ada yang mengetahui tentang status Tio. Mereka mengira Tio masih sendiri. Tio menikah atas dasar keterpaksaan, karena tuntutan orang tuanya. Jadi kami selingkuh? Tidak, kami tak pernah punya hubungan khusus, kami hanya dekat. Aku bukan wanita kurang ajar yang menghalalkan segala cara untuk itu. Cukup dalam hati aku memanggilnya sayang. Aku tau Tio mencintaiku, Tio telah mengungkapkan perasaannya padaku dan aku pun telah mengungkapkan perasaanku padanya. 

Sudah dua jam aku menunggu Tio di taman ini, taman ini adalah tempat di mana kami biasa bertemu. Tio sudah berjanji akan datang melalui balasan pesan singkat yang ku kirim padanya, aku percaya janjinya, Tio tak pernah mengingkari janjinya. Aku yakin, dia pasti datang ke sini menemuiku untuk memenuhi janjinya. Aku menyilangkan tangan di dadaku, aku merasa kedinginan, berkali-kali aku menatap jam tangan yang melingkar di tanganku. Rintik hujan semakin deras, aku tak peduli, yang jelas aku hanya ingin bertemu Tio. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku enggan pulang ke kostan, aku khawatir jika aku pulang, khawatir jika Tio datang dia kecewa karena tak menemuiku di sini.

Terlihat sebuah mobil singgah di depanku, lalu seseorang turun dari mobil itu. Dia Tio, benar dia Tio. Tio membuka payungnya  berlari kecil menghampiriku, aku tersenyum lega.

“Kamu sudah lama? Kamu kenapa diam saja kehujanan?” tanya Tio, dengan dibalut wajah cemasnya.
“Aku sudah dua jam menunggu kamu di sini. Syukurlah kamu datang, aku lega.” sahutku.
“Kita masuk ke mobil yuk, Tan. Biar aku pinjemin kamu jaket.” ujar Tio sambil memberikan jaketnya kepadaku lalu menuntunku masuk ke mobilnya.
“Terima kasih, Tio.” aku merasa lebih hangat di dalam mobil ini, di samping seseorang yang sangat aku cintai.
“Sama-sama, Tan. Maafin aku ya.” ujar Tio.
“Nggak apa-apa kok, tadi macet?” jawabku.
“Nggak macet kok, tadi aku nganterin istri aku ke dokter kandungan.” jelas Tio.
“Istri kamu hamil?” tanyaku.
“Iya, kata dokter dia positif hamil.” sahut Tio.
“Selamat ya!” kataku sambil menahan kesedihan.
“Makasih, Tan.” ujar Tio sambil menatapku.
“Sama-sama. Bagaimana dengan kita?” tanyaku pelan.
“Aku sangat mencintai kamu, Tania. Tolonglah kamu harus bersabar.” ucap Tio.
“Sampai kapan?” sahutku terisak.
“Paling nggak sampai istriku melahirkan.” ucap Tio dengan nada suara bergetar.
“Nggak, Tio. Aku nggak tega sama istri dan anak dalam rahim istri kamu, lebih baik kita akhiri semua ini.”
“Tapi, Tania, kita sudah susah payah memperjuangkan rasa cinta ini.”
“Tolong, belajarlah mencintai istrimu, dia jauh lebih membutuhkan kamu.” sahutku sambil mengembalikan jaket milik Tio lalu menuruni mobil.
“Baiklah, terima kasih pernah jadi bagian dari hari-hariku.” ucap Tio setengah berteriak.

Aku berjalan di tengah derasnya hujan, hujan yang tak kunjung reda sedari tadi. Tak jauh aku berjalan terdengar suara klakson mobil, ternyata mobil Tio.

“Tania, tolong izinin aku ngenterin kamu sampai kostan. Ayo masuk mobil, aku nggak tega liat kamu hujan-hujanan.”
“Berjanjilah ini yang terakhir.”
“Iya iya Tania, aku janji, ayo naik.”
Aku pun menaiki mobil Tio, di dalam mobil hanya hening, tak ada sedikitpun kami berbincang. Akhirnya kami sampai di kostan.
“Maaf aku nggak bukain kamu pintu.” ujar Tio seolah berpura-pura dingin, aku bisa membaca arti tatapan matanya, mana yang jujur dan mana yang bohong.
“Iya nggak apa-apa. Terima kasih.” ucapku lalu menuruni mobil.
“Selamat tinggal kekasih yang tak sempat aku miliki.” ujar Tio.

Aku masuk kamar kost ku, merebahkan tubuhku di atas kasur. Semua telah berakhir, perjuangan kami sudah terhenti. Rasa sakit ini memang tak akan lenyap begitu saja, tak ada yang mampu mendeskripsikan perasaanku, aku lelah dengan perasaan ini.

Keesokan paginya, aku ke kampus dengan mata bengkak. Teman-temanku banyak yang bertanya keadaanku dengan nada khawatir, dan aku hanya mengatakan bahwa aku sedang sakit mata. 

Aku merasa haus, lalu aku mengajak Dewi ke kantin. Saat di kantin, aku merasa tak ada udara di sini, nafasku sesak, aku melihat Tio bersama istrinya tengah makan di kantin. Aku melihat jelas, Tio sedang menyuapi istrinya sambil menggenggam jemari istrinya. Saat itu juga, aku benar-benar tak kuat melihatnya, seandainya saja Tio bisa memahami isi otakku dan mengerti perasaanku. Seandainya saja ada keajaiban.

“Kamu kenapa, Tan?” tanya Dewi.
“Aku nggak apa-apa kok, Dew. Kayaknya aku nggak jadi ngantin deh. Aku mau pulang aja.”
“Loh bukannya mata kuliah kamu satu jam lagi?”
“Kayaknya aku bolos kuliah dulu deh, aku lemes banget.”
“Nggak mau aku anterin?”
“Nggak usah. Bye, Dew.”
“Bye, hati-hati, Tan.”
“Iya.”

**

Aku tengah berjuang keras, untuk melupakan Tio, untuk menghapus rasa ini. Kini semua orang mengetahui dia lah istri Tio yang sekarang hampir tiap hari menemani Tio, tak ada yang tahu, aku lah orang yang pernah diperjuangkan oleh Tio, pernah atau masih dicintainya dengan sepenuh hati. Setiap saat melihat Tio dengan wanita itu, aku berusaha keras untuk mengubur dalam-dalam perasaanku. Terima kasih Tio, kamu telah menuruti permintaanku, untuk mengalihkan rasa cintamu padaku kepada istrimu. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena aku tau, dalam cinta tak pernah ada yang salah, aku malas berbicara tentang perasaanku ini pada siapapun.

Tenang saja Tio, sekarang sudah ada seseorang yang baru, yang ku cintai secara biasa-biasa saja. Tak ada yang menggebu seperti saat aku mencintai kamu. Jangan khawatirkan aku, dia selalu menghiburku, tetapi apa aku menganggapnya pelarian? Sudahlah aku hanya ingin mengikuti arus. Setiap cerita harus mempunyai akhir, sedih ataupun bahagia, ini memang bukan akhir yang aku inginkan, seharusnya waktu itu aku tak usah terlalu penasaran dengan sosokmu. Rasa penasaran yang akhirnya menimbulkan perasaan. Ini jalan hidup kita.

Senja

Hari mulai condong ke barat, matahari perlahan tenggelam, berganti senja yang temaram. Semburat merah dan kuning keemasan berpadu menghiasi langit. Cantik sekali, sampai mataku sulit berpaling.

Nggak biasanya aku terpaku lama-lama menatap senja seperti ini. Aku bukan pengagum senja, berbeda dengan almarhumah kakakku. Tapi sejak kepergiannya kemarin lusa, setiap kali melihat langit senja dari balik jendela, rasanya seperti melihat Kak Lita berdiri di sana—tersenyum, menatapku dengan tatapan lembut yang tak pernah berubah.

Tuhan... kalau bisa, tolong sampaikan pada Kak Lita bahwa Cindi, adik kecilnya, sekarang sudah nggak nakal lagi. Katakan padanya, aku nggak akan ngeyel lagi. Bisikkan pelan, agar dia tak usah mengkhawatirkan kami di sini. Kami akan baik-baik saja. Tapi tolong... jaga dia di sisi-Mu. Aku tahu, Kak Lita pasti nyaman di sana bersama-Mu.

Air mata ini tumpah lagi. Sejak kepergiannya, Umi berkali-kali pingsan. Sekarang memang sudah tidak pingsan lagi, tapi Umi lebih sering diam, melamun, matanya kosong.

Kak Lita semasa hidupnya adalah sosok paling patuh di rumah ini. Dia tak pernah membantah Umi dan Abi. Bahkan ketika dulu ingin kuliah di Fakultas Ekonomi, dia mengalah dan masuk Fakultas Hukum hanya karena Abi menginginkannya. Nggak seperti aku yang sering membantah dan ngeyel soal hal-hal kecil. Kak Lita sering menasihatiku untuk jadi anak yang menurut. Tapi dulu, aku selalu membalas dengan berbagai alasan yang sekarang terasa bodoh.

Kemarin lusa, pagi itu, ban mobil Kak Lita kempes saat hendak berangkat ke kantor. Karena ada meeting penting, dia buru-buru memutuskan untuk naik bus. Padahal, Abi sudah menawari mobilnya. Tapi Kak Lita menolak. "Nanti Cindi ke sekolah naik apa? Tempat kerjaku dan sekolahnya kan nggak searah," katanya sambil tersenyum.

Aku pergi ke sekolah seperti biasa, tapi entah kenapa, sepanjang pelajaran aku merasa gelisah. Lalu handphone-ku berdering—Abi menelpon.

“Cindi, Kakak kamu kecelakaan. Bus yang dia naiki pagi tadi terguling. Sekarang dia di ICU.”

Dunia seolah runtuh. Aku minta Abi mengirim alamat rumah sakit lewat SMS. Aku langsung minta izin pulang, naik taksi, dan meluncur ke rumah sakit. Aku nggak sempat menangis waktu itu, tapi ada yang sesak, berat, dan membuat langkahku limbung.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bertanya pada Abi yang berdiri di depan ruang ICU.

“Abi... gimana keadaan Kak Lita? Dia masih kritis?”

Abi menatapku lama, sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Kakakmu sudah tenang di sana, Cindi.”

“Apa maksud Abi...? Kak Lita... udah nggak ada?”

Abi mengangguk. “Allah sayang sekali sama dia, Cin. Makanya Allah cepat-cepat menjemputnya.”

Aku terpaku. Dunia terasa gelap. “Nggak, Abi... Ini nggak mungkin... Aku bener-bener nggak siap kehilangan Kak Lita...”

Abi memelukku pelan, “Cindi... perpisahan itu memang menyakitkan. Tapi kita harus ikhlas. Kakakmu pasti bahagia sekarang.”

“Umi di mana?”

“Umi pulang duluan. Tadi sempat pingsan lagi. Sekarang sudah siuman, dan Abi sudah minta Mang Darto dan Bibi Minah bantu persiapan di rumah.”

Aku mengangguk. “Kalau gitu aku pulang duluan ya, Bi. Aku khawatir sama Umi.”

Abi mengangguk. “Hati-hati ya, Cindi.”


***

Saat di pemakaman, ketika jenazah Kak Lita hendak dimasukkan ke liang kubur, aku melihat air mata Abi mengalir—air mata yang mungkin sejak tadi ia tahan. Kini pecah. Sepertinya Abi pun tak sanggup kehilangan Kak Lita. Usia Kak Lita baru 22 tahun.

Sampai saat ini, aku masih belum benar-benar percaya… secepat itu Kak Lita pergi meninggalkan kami semua. Mataku bengkak karena terlalu sering menangisinya—meski diam-diam.

Malam ini aku memilih menemani Umi. Aku nggak mau Umi terus murung. Aku ingin menjadi seperti Kak Lita—yang dulu selalu bisa menenangkan Umi saat sedih.

“Umi,” aku menghampirinya di kamar, lalu duduk di sampingnya.
“Iya, Cin?” sahut Umi dengan suara serak.
“Umi, biarkan Kak Lita tenang di alam sana, ya... bersama Allah.”
“Umi benar-benar merasa kehilangan, Cin.”
“Cindi ngerti, Umi... Tapi kalau kita terus meratapi, bukankah itu justru jadi beban untuk Kak Lita di sana? Umi masih ingat waktu Kakek meninggal dulu? Saat itu Cindi ngedrop banget... Tapi Umi yang bilang kalau terlalu larut dalam kesedihan itu nggak baik.”
“Astaghfirullah... benar, Cindi. Kamu benar. Insya Allah Umi akan terus belajar mengikhlaskan kepergian Kakak kamu.”
“Iya, Umi. Dia tetap ada bersama kita. Ada di hati kita semua.”
“Iya, Cindi. Tuhan lebih menyayanginya.”
“Sekarang Umi senyum dong? Aku janji, aku akan mencontoh sikap-sikap positif Kak Lita, sedikit demi sedikit.”
“Terima kasih, Cindi...” suara itu datang dari belakang. Abi.
“Umi bangga sama kamu, Cin. Kamu selalu bisa mengubah tangis menjadi senyuman.”
“Itu karena Cindi sayang banget sama kalian. Nanti, aku akan terus sampaikan kabar kita ke Kak Lita lewat Tuhan... supaya dia tenang dan nggak khawatir.”
“Aamiin,” sahut Abi.
“Sekarang yang harus kita lakukan adalah mendoakan Kak Lita. Karena hanya itu yang bisa kita kirimkan sekarang,” kata Abi lagi.
“Insya Allah, siap, Bi!”
“Insya Allah,” sahut Umi.


---

Tuhan, sekali lagi aku menitip pesan. Sampaikan pada Kak Lita...


---

Dear Kak Lita,

Kakak gimana di sana? Baik-baik aja, kan? Di surga pasti nyaman, ya? Aku, Umi, dan Abi... nanti suatu saat akan berkumpul lagi bersama Kakak di sana. Jangan pernah ngerasa kesepian, ya. Kami selalu mendoakan kebahagiaan Kakak di sana.

Aku tau banget, Kak Lita itu sosok yang kuat dan tegar. Aku sangat yakin, Tuhan pasti memberikan tempat terbaik untuk gadis sebaik Kak Lita.

Oh ya, sekarang aku mulai jadi pengagum senja, seperti Kakak. Sekarang aku ngerti kenapa Kakak suka banget sama senja... Ada sesuatu yang seolah bisa terungkap lewat warna langit saat itu. Senja seperti mengajarkan kita bahwa yang terbit pasti akan terbenam.

Dan yang terbenam... bukan berarti menghilang. Ia hanya berpindah ke sisi langit lain. Seperti Kakak.

Salam cinta,
Cindi

Rabu, 02 Juli 2014

Holiday

Beberapa tahun lalu, aku pernah berlibur ke Surabaya dan Yogyakarta bersama keluarga besar—tepatnya bareng Ciwi (tanteku), Om Evan, Ciwu (tante juga), dan sepupu-sepupuku: Rama, Faris, Nazher, dan Azmi. Waktu itu, Mama dan Abah nggak ikut.

Meskipun cuma sekitar sepuluh hari, aku benar-benar merasa kangen berat. Jauh dari Mama dan Abah membuatku sadar betapa aku terbiasa banget dikelilingi mereka. Aku juga kangen sama kelinciku di rumah. Sayangnya, kelinci kecil itu meninggal waktu aku masih di perjalanan liburan—kata Mama, mungkin dia stres karena biasanya sering diajak main dan tiba-tiba aku pergi. Sedih banget pas tahu kabarnya. Sejak itu, aku jadi trauma buat pelihara kelinci lagi. Takut keulang. 😢

Selama di Surabaya dan Jogja, sebenarnya banyak momen seru. Tapi setiap malam, rasanya tetap ada yang kosong. Mama dan Abah juga beberapa kali nelpon—aku yakin mereka juga sama galaunya. Hihi. kibas jilbab ala-ala selebgram 😆

Lucu juga kalau diingat sekarang, betapa mellow-nya aku waktu itu. Baru pisah sebentar aja udah galau, udah kayak ditinggalin setahun. Tapi ya begitulah... kalau terbiasa dekat dengan orang tua, pisah sebentar pun rasanya kayak jauh banget.

Dari situ aku belajar, meskipun sesayang itu sama keluarga, kita juga harus siap pelan-pelan mandiri. Karena waktu nggak akan berhenti, dan kita pasti akan dihadapkan pada momen-momen harus jalan sendiri. Tapi nggak apa-apa, kan? Tumbuh itu proses. Kadang lewat tangis, kadang lewat kehilangan kecil seperti kepergian kelinci kesayangan. Yang penting, aku terus belajar.

Hari itu mungkin hanya satu potong dari perjalanan hidupku, tapi aku nggak akan lupa rasanya—rasanya belajar rindu, belajar kehilangan, dan mulai memahami arti rumah yang sebenarnya.

Kecewa

Setiap orang punya cara tersendiri saat berhadapan dengan kekecewaan. Bisa dengan menangis, marah, ataupun berontak.

Begitupun dengan aku, aku adalah seseorang yang nggak suka kekecewaan (mungkin semua orang juga begitu) dan kadang nggak sanggup dalam menahan air mata, aku bisa berpura-pura kuat, tapi air mata bisa keluar dengan sendirinya. Seolah memberi tau agar aku jangan bersandiwara dengan rasa kecewa.

Dalam kekecewaan, terkadang air mata bisa keluar karena tak kuatnya menahan sesak di hati.

Seperti beberapa waktu lalu, aku sangat-sangat kecewa dengan hasil raport yang menurun di banding semester-semester sebelumnya, yang awalnya berada di peringkat 2 menjadi berada di peringkat 4 dan keluar dari 3 besar. Aku berharap, berusaha, dan berdo’a untuk itu, tetapi kenyataannya aku terlempar. Aku sempat benar-benar terpukul, aku merasa ini benar-benar mengecewakan. 

Tapi aku cepat-cepat mengubah persepsiku, karena terkadang untuk bahagia, kita hanya perlu mengubah pola pikir, harus lebih bersemangat kedepannya. Dengan kekecewaan kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, yang nggak hanya bersyukur di saat diberi kebahagiaan, tetapi juga bersyukur saat diberi cobaan, tetap ingat bahwa kejadian apapun itu selalu ada hikmahnya, alhamdulillah.

Lanjutan Cerita Magang Di Bagian Tapem Pemkot Banjarmasin

Sesuai janjiku di postingan sebelumnya, bahwa aku akan melanjutkan cerita pengalaman-pengalaman magangku sampai betapa harunya berpamitan dengan pegawai Tata Pemerintahan. Pengalaman kocak yang bisa dibilang malu-maluin pasti banyak, mengingat betapa minimnya pengetahuan tentang dunia kerja yang sesungguhnya.

Banyak perubahan positif yang aku rasakan setelah menjalani kegiatan magang ini. Pengetahuanku bertambah, terutama soal alur kerja di bagian Tata Pemerintahan. Semua itu bisa aku pelajari berkat bimbingan para staf yang sabar dan penuh perhatian.

Selama hampir tiga bulan, aku dan Henny merasa benar-benar diterima. Suasananya hangat, akrab, seperti sudah jadi bagian dari keluarga. Di waktu-waktu senggang, kami sering mengobrol santai, paling sering sih sama Pak Erwin—orangnya ramah dan menyenangkan.

Banyak momen tak terlupakan selama di sana. Salah satunya, saat kami diundang ke acara ulang tahun Pak Tezar, pembimbing kami, yang diadakan di sebuah rumah makan. Serunya lagi, kami berangkat naik mobil beliau langsung bareng para pegawai lainnya. Hehe, pengalaman sederhana tapi berkesan banget.

Kami juga pernah tiga kali bolak-balik ke Bagian Hukum gara-gara ada revisi SK. Naik-turun tangga berulang kali bikin kaki pegal, tangganya banyak banget kayak nggak habis-habis—tapi tetap kami jalani dengan semangat. Walau tugas utamanya bukan milik kami, rasanya senang bisa ikut membantu kasubbag Pertanahan dan stafnya.

Tanpa terasa, tibalah hari perpisahan, 6 Juni 2014. Berat rasanya meninggalkan tempat yang sudah jadi bagian dari keseharian kami. Sayangnya, di hari terakhir itu Pak Tezar sedang dinas luar, jadi kami belum sempat pamit langsung. Akhirnya, beberapa hari kemudian kami kembali mampir… dan malah sempat dikerjain dulu sebelum pamit. Hahaha, kenangan manis yang bikin nangis haru sekaligus ketawa.

Terima kasih untuk semua staf di Bagian Tata Pemerintahan yang telah menerima kami dengan sangat baik. Dari magang ini, aku belajar banyak, bahkan sempat beberapa kali bertemu langsung dengan Wali Kota Banjarmasin—siapa sangka, kan?

Pengalaman ini bukan sekadar tugas sekolah, tapi pelajaran hidup yang penuh makna. ❤️

Cerita Magang Di Bagian Tapem Pemkot Banjarmasin

Di sekolahku, siswa-siswi diwajibkan melaksanakan magang sebanyak dua kali—pertama di kelas 11 semester 2, dan yang kedua di kelas 12 semester 1. Masing-masing berlangsung sekitar tiga bulan.

Waktu itu, benar-benar jadi pengalaman magang pertamaku. Sejak jauh-jauh hari, aku sudah nggak sabar menanti pengalaman baru. Tapi, rasa excited itu juga datang bareng perasaan gugup yang susah dijelasin. Hari itu, 24 Maret 2014, adalah hari pertama aku magang—atau lebih dikenal dengan istilah PKL—di Pemerintah Kota Banjarmasin, tepatnya di bagian Tata Pemerintahan, bareng temanku, Henny.

Ternyata, di ruangan itu, cuma aku dan Henny yang jadi anak magang. Pagi itu kami duduk di sofa depan ruangan Tata Pemerintahan yang tertutup rapat. Kami pikir masih dikunci, jadi kami nunggu hampir setengah jam. Sampai akhirnya datang seorang ibu muda. Ia menyapa, “Anak magang ya?” Kami cuma manggut-manggut malu. Ternyata... ruangan itu dari tadi nggak dikunci! Rasanya pengen ngakak dan malu campur jadi satu.

Begitu masuk, kami dipersilakan duduk lagi di sofa. Deg-degan banget. Ruangan masih sepi karena memang belum jam masuk. Kami datang terlalu awal, sekitar jam 7 WITA. Saat ditanya pun, aku dan Henny cuma bisa jawab sekadarnya—senyum-senyum kikuk sambil nunggu guru pembimbing dari sekolah datang.

Setelah menunggu cukup lama, guru pembimbing kami akhirnya datang. Beliau ngobrol cukup lama dengan pembimbing kami di tempat magang. Setelah itu, kami dipersilakan duduk di meja kerja—untung banget duduknya sebelahan sama Henny. Rasanya lebih tenang.

Tugas pertama kami adalah mengurus surat relasi, mengelola buku agenda, dan bantu pengarsipan surat. Awalnya canggung dan salah tingkah banget. Tapi untungnya para staf di sana sangat membantu. Kami paling sering kerja bareng Pak Umar dan Pak Randi, yang merupakan staf langsung di bawah Pak Tezar, kasubbag Pem-Umum dan juga pembimbing kami. Mereka sibuk banget, apalagi kalau lagi banyak kunjungan kerja (kunker). Dalam sehari bisa dua kali. Bagian yang paling ribet tuh ngurus surat—karena semua dibagikan manual, belum lewat email.

Dari sekian banyak kegiatan selama magang, yang paling membekas buatku adalah saat ikut rapat sosialisasi pembebasan tanah. Banyak warga yang datang, dengan latar belakang beragam. Aku dan Henny ditugaskan menjaga daftar hadir dan membagikan snack.

Ada yang bikin hatiku benar-benar terketuk, yaitu saat menyadari bahwa sebagian besar warga yang datang tidak bisa membaca atau menulis. Salah satunya seorang nenek yang sedang sakit tumor. Saat ingin mengisi daftar hadir, beliau bilang nggak punya alamat. Aku sempat bingung, tapi lalu beliau menjelaskan kalau ia tinggal di lanting—rumah terapung di atas sungai. Makanya, nggak punya alamat tetap. Kami pun mendapat izin dari Pak Rusni, kasubbag Pertanahan, untuk tetap mencatat kehadiran beliau.

Hari itu aku diam. Pertanyaan besar muncul di kepalaku:
“Apakah karena keterbatasan itulah mereka kesulitan mendapat pendidikan? Bahkan untuk sekadar bisa membaca dan menulis?”

Padahal, pendidikan adalah dasar awal bagi siapa pun untuk meraih hidup yang lebih baik. Aku hanya bisa berharap semoga makin banyak orang yang sadar pentingnya pendidikan—dan semoga para pemimpin kita benar-benar memberi perhatian lebih pada hal ini.

Sebenarnya masih banyak banget pengalaman yang ingin kuceritakan selama magang di bagian Tata Pemerintahan Pemkot Banjarmasin. Tapi aku juga harus belajar menulis lebih ringkas, biar nggak mubazir kata-kata. Hehe.

Sampai sini dulu, ya. Di postingan selanjutnya, aku bakal lanjut cerita—termasuk momen haru saat berpamitan dengan para pegawai di sana.

 Aula Kayuh Baimbai. Dijepret saat membantu mempersiapkan kunker.

Di depan Aula nih, hehe. Muka udah lepek, capek habis bolak-balik, tapi sempet-sempetnya minta difoto. :D

Waktu nge-fotocopy berkas, biasalah, anak magang.

Ini waktu kunjungan dari Kementerian. Yang pakai baju putih itu Pak Gazi, kebetulan beliau yang nyambut orang-orang kementerian waktu itu. Pak Gazi ini baik banget loh, beliau ini asisten administrasi di Pemerintah Kota Banjarmasin.

Buku Agenda. Aku kangeeeeen. :D

Ini waktu Ustadz Ahmad Al Habsyi datang ke pemkot.

Ini ruang rapat yang letaknya di ruangan Pak Walikota.

Hihi. :p

Setelah kelar makan-makan nih kalo nggak salah. :D