Ada hal yang lebih
menyakitkan dibandingkan cinta bertepuk sebelah tangan, yaitu memiliki
perasaan yang sama tetapi tak kunjung temukan jalan untuk bersama-sama.
Namaku Tania, aku dilahirkan delapan
belas tahun silam di Bogor. Saat ini aku tengah sibuk dengan kuliah juga
pekerjaan sampinganku sebagai karyawan di salah satu distro.
Aku
tipekal wanita yang suka kejelasan, mudah jenuh, kurang percaya cinta, dan aku
sulit mempercayai orang yang berkata cinta, aku juga tidak mudah mendefinisikan
rasa yang hadir di hatiku sebagai cinta. Tapi rasa yang sekarang ini
benar-benar memaksaku untuk bertahan dalam ketidakjelasan, untuk bersabar meski
jenuh, untuk mempercayai bahwa dia benar cinta, dan sudah mendefinisikan rasa
dihatiku sebagai cinta. Tapi sekali lagi ini menyakitkan, tentang hubungan yang
terombang-ambing karena dua orang pemilik hati tak kunjung temukan jalan untuk
bersama.
Awalnya semua berjalan
seperti yang ku inginkan. Aku dan dia berkenalan di kampus, berteman lalu mulai
dekat, saling menikmati rasa yang hadir yang mungkin cinta. Namun, saat kami
berdua mulai meyakini rasa yang hadir ini sebagai cinta, kami malah tersesat
dalam sebuah hubungan dimana kami tak bisa saling menuntut, mengapa? Karena Tio
telah mempunyai seorang istri. Ahh ini rumit, benar-benar rumit.
Mahasiswa dan mahasiswi lain di
kampus kami tak ada yang mengetahui tentang status Tio. Mereka mengira Tio
masih sendiri. Tio menikah atas dasar keterpaksaan, karena tuntutan orang
tuanya. Jadi kami selingkuh? Tidak, kami tak pernah punya hubungan khusus, kami
hanya dekat. Aku bukan wanita kurang ajar yang menghalalkan segala cara untuk
itu. Cukup dalam hati aku memanggilnya sayang. Aku tau Tio mencintaiku, Tio
telah mengungkapkan perasaannya padaku dan aku pun telah mengungkapkan
perasaanku padanya.
Sudah dua jam aku menunggu Tio di
taman ini, taman ini adalah tempat di mana kami biasa bertemu. Tio sudah
berjanji akan datang melalui balasan pesan singkat yang ku kirim padanya, aku
percaya janjinya, Tio tak pernah mengingkari janjinya. Aku yakin, dia pasti
datang ke sini menemuiku untuk memenuhi janjinya. Aku menyilangkan tangan di
dadaku, aku merasa kedinginan, berkali-kali aku menatap jam tangan yang
melingkar di tanganku. Rintik hujan semakin deras, aku tak peduli, yang jelas
aku hanya ingin bertemu Tio. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku
enggan pulang ke kostan, aku khawatir jika aku pulang, khawatir jika Tio datang
dia kecewa karena tak menemuiku di sini.
Terlihat sebuah mobil singgah di
depanku, lalu seseorang turun dari mobil itu. Dia Tio, benar dia Tio. Tio
membuka payungnya berlari kecil
menghampiriku, aku tersenyum lega.
“Kamu sudah lama? Kamu kenapa diam
saja kehujanan?” tanya Tio, dengan dibalut wajah cemasnya.
“Aku sudah dua jam menunggu kamu
di sini. Syukurlah kamu datang, aku lega.” sahutku.
“Kita masuk ke mobil yuk, Tan. Biar
aku pinjemin kamu jaket.” ujar Tio sambil memberikan jaketnya kepadaku lalu
menuntunku masuk ke mobilnya.
“Terima kasih, Tio.” aku
merasa lebih hangat di dalam mobil ini, di samping seseorang yang sangat aku
cintai.
“Sama-sama, Tan. Maafin aku ya.” ujar
Tio.
“Nggak apa-apa kok, tadi macet?”
jawabku.
“Nggak macet kok, tadi aku nganterin
istri aku ke dokter kandungan.” jelas Tio.
“Istri kamu hamil?” tanyaku.
“Iya, kata dokter dia positif hamil.”
sahut Tio.
“Selamat ya!” kataku sambil menahan
kesedihan.
“Makasih, Tan.” ujar Tio sambil
menatapku.
“Sama-sama. Bagaimana dengan kita?”
tanyaku pelan.
“Aku sangat mencintai kamu, Tania. Tolonglah kamu harus bersabar.” ucap Tio.
“Sampai kapan?” sahutku terisak.
“Paling nggak sampai istriku
melahirkan.” ucap Tio dengan nada suara bergetar.
“Nggak, Tio. Aku nggak tega sama istri
dan anak dalam rahim istri kamu, lebih baik kita akhiri semua ini.”
“Tapi, Tania, kita sudah susah payah
memperjuangkan rasa cinta ini.”
“Tolong, belajarlah mencintai
istrimu, dia jauh lebih membutuhkan kamu.” sahutku sambil mengembalikan jaket
milik Tio lalu menuruni mobil.
“Baiklah, terima kasih pernah jadi
bagian dari hari-hariku.” ucap Tio setengah berteriak.
Aku berjalan di tengah derasnya
hujan, hujan yang tak kunjung reda sedari tadi. Tak jauh aku berjalan terdengar
suara klakson mobil, ternyata mobil Tio.
“Tania, tolong izinin aku ngenterin kamu
sampai kostan. Ayo masuk mobil, aku nggak tega liat kamu hujan-hujanan.”
“Berjanjilah ini yang terakhir.”
“Iya iya Tania, aku janji, ayo naik.”
Aku pun menaiki mobil Tio, di dalam
mobil hanya hening, tak ada sedikitpun kami berbincang. Akhirnya kami sampai di
kostan.
“Maaf aku nggak bukain kamu pintu.”
ujar Tio seolah berpura-pura dingin, aku bisa membaca arti tatapan matanya,
mana yang jujur dan mana yang bohong.
“Iya nggak apa-apa. Terima kasih.”
ucapku lalu menuruni mobil.
“Selamat tinggal kekasih yang tak
sempat aku miliki.” ujar Tio.
Aku masuk kamar kost ku, merebahkan
tubuhku di atas kasur. Semua telah berakhir, perjuangan kami sudah terhenti.
Rasa sakit ini memang tak akan lenyap begitu saja, tak ada yang mampu
mendeskripsikan perasaanku, aku lelah dengan perasaan ini.
Keesokan paginya, aku ke kampus
dengan mata bengkak. Teman-temanku banyak yang bertanya keadaanku dengan nada
khawatir, dan aku hanya mengatakan bahwa aku sedang sakit mata.
Aku merasa
haus, lalu aku mengajak Dewi ke kantin. Saat di kantin, aku merasa tak ada
udara di sini, nafasku sesak, aku melihat Tio bersama istrinya tengah makan di
kantin. Aku melihat jelas, Tio sedang menyuapi istrinya sambil menggenggam
jemari istrinya. Saat itu juga, aku benar-benar tak kuat melihatnya, seandainya
saja Tio bisa memahami isi otakku dan mengerti perasaanku. Seandainya saja ada
keajaiban.
“Kamu kenapa, Tan?” tanya Dewi.
“Aku nggak apa-apa kok, Dew. Kayaknya
aku nggak jadi ngantin deh. Aku mau pulang aja.”
“Loh bukannya mata kuliah kamu satu
jam lagi?”
“Kayaknya aku bolos kuliah dulu deh,
aku lemes banget.”
“Nggak mau aku anterin?”
“Nggak usah. Bye, Dew.”
“Bye, hati-hati, Tan.”
“Iya.”
**
Aku tengah berjuang keras, untuk
melupakan Tio, untuk menghapus rasa ini. Kini semua orang mengetahui dia lah
istri Tio yang sekarang hampir tiap hari menemani Tio, tak ada yang tahu, aku
lah orang yang pernah diperjuangkan oleh Tio, pernah atau masih dicintainya
dengan sepenuh hati. Setiap saat melihat Tio dengan wanita itu, aku berusaha
keras untuk mengubur dalam-dalam perasaanku. Terima kasih Tio, kamu telah
menuruti permintaanku, untuk mengalihkan rasa cintamu padaku kepada istrimu.
Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena aku tau, dalam cinta tak pernah
ada yang salah, aku malas berbicara tentang perasaanku ini pada siapapun.
Tenang saja Tio, sekarang sudah ada
seseorang yang baru, yang ku cintai secara biasa-biasa saja. Tak ada yang
menggebu seperti saat aku mencintai kamu. Jangan khawatirkan aku, dia selalu
menghiburku, tetapi apa aku menganggapnya pelarian? Sudahlah aku hanya ingin
mengikuti arus. Setiap cerita harus mempunyai akhir, sedih ataupun bahagia, ini
memang bukan akhir yang aku inginkan, seharusnya waktu itu aku tak usah terlalu
penasaran dengan sosokmu. Rasa penasaran yang akhirnya menimbulkan perasaan. Ini jalan hidup kita.