Rabu, 09 Juli 2014

Senja

Hari mulai condong ke barat, matahari perlahan tenggelam, berganti senja yang temaram. Semburat merah dan kuning keemasan berpadu menghiasi langit. Cantik sekali, sampai mataku sulit berpaling.

Nggak biasanya aku terpaku lama-lama menatap senja seperti ini. Aku bukan pengagum senja, berbeda dengan almarhumah kakakku. Tapi sejak kepergiannya kemarin lusa, setiap kali melihat langit senja dari balik jendela, rasanya seperti melihat Kak Lita berdiri di sana—tersenyum, menatapku dengan tatapan lembut yang tak pernah berubah.

Tuhan... kalau bisa, tolong sampaikan pada Kak Lita bahwa Cindi, adik kecilnya, sekarang sudah nggak nakal lagi. Katakan padanya, aku nggak akan ngeyel lagi. Bisikkan pelan, agar dia tak usah mengkhawatirkan kami di sini. Kami akan baik-baik saja. Tapi tolong... jaga dia di sisi-Mu. Aku tahu, Kak Lita pasti nyaman di sana bersama-Mu.

Air mata ini tumpah lagi. Sejak kepergiannya, Umi berkali-kali pingsan. Sekarang memang sudah tidak pingsan lagi, tapi Umi lebih sering diam, melamun, matanya kosong.

Kak Lita semasa hidupnya adalah sosok paling patuh di rumah ini. Dia tak pernah membantah Umi dan Abi. Bahkan ketika dulu ingin kuliah di Fakultas Ekonomi, dia mengalah dan masuk Fakultas Hukum hanya karena Abi menginginkannya. Nggak seperti aku yang sering membantah dan ngeyel soal hal-hal kecil. Kak Lita sering menasihatiku untuk jadi anak yang menurut. Tapi dulu, aku selalu membalas dengan berbagai alasan yang sekarang terasa bodoh.

Kemarin lusa, pagi itu, ban mobil Kak Lita kempes saat hendak berangkat ke kantor. Karena ada meeting penting, dia buru-buru memutuskan untuk naik bus. Padahal, Abi sudah menawari mobilnya. Tapi Kak Lita menolak. "Nanti Cindi ke sekolah naik apa? Tempat kerjaku dan sekolahnya kan nggak searah," katanya sambil tersenyum.

Aku pergi ke sekolah seperti biasa, tapi entah kenapa, sepanjang pelajaran aku merasa gelisah. Lalu handphone-ku berdering—Abi menelpon.

“Cindi, Kakak kamu kecelakaan. Bus yang dia naiki pagi tadi terguling. Sekarang dia di ICU.”

Dunia seolah runtuh. Aku minta Abi mengirim alamat rumah sakit lewat SMS. Aku langsung minta izin pulang, naik taksi, dan meluncur ke rumah sakit. Aku nggak sempat menangis waktu itu, tapi ada yang sesak, berat, dan membuat langkahku limbung.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bertanya pada Abi yang berdiri di depan ruang ICU.

“Abi... gimana keadaan Kak Lita? Dia masih kritis?”

Abi menatapku lama, sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Kakakmu sudah tenang di sana, Cindi.”

“Apa maksud Abi...? Kak Lita... udah nggak ada?”

Abi mengangguk. “Allah sayang sekali sama dia, Cin. Makanya Allah cepat-cepat menjemputnya.”

Aku terpaku. Dunia terasa gelap. “Nggak, Abi... Ini nggak mungkin... Aku bener-bener nggak siap kehilangan Kak Lita...”

Abi memelukku pelan, “Cindi... perpisahan itu memang menyakitkan. Tapi kita harus ikhlas. Kakakmu pasti bahagia sekarang.”

“Umi di mana?”

“Umi pulang duluan. Tadi sempat pingsan lagi. Sekarang sudah siuman, dan Abi sudah minta Mang Darto dan Bibi Minah bantu persiapan di rumah.”

Aku mengangguk. “Kalau gitu aku pulang duluan ya, Bi. Aku khawatir sama Umi.”

Abi mengangguk. “Hati-hati ya, Cindi.”


***

Saat di pemakaman, ketika jenazah Kak Lita hendak dimasukkan ke liang kubur, aku melihat air mata Abi mengalir—air mata yang mungkin sejak tadi ia tahan. Kini pecah. Sepertinya Abi pun tak sanggup kehilangan Kak Lita. Usia Kak Lita baru 22 tahun.

Sampai saat ini, aku masih belum benar-benar percaya… secepat itu Kak Lita pergi meninggalkan kami semua. Mataku bengkak karena terlalu sering menangisinya—meski diam-diam.

Malam ini aku memilih menemani Umi. Aku nggak mau Umi terus murung. Aku ingin menjadi seperti Kak Lita—yang dulu selalu bisa menenangkan Umi saat sedih.

“Umi,” aku menghampirinya di kamar, lalu duduk di sampingnya.
“Iya, Cin?” sahut Umi dengan suara serak.
“Umi, biarkan Kak Lita tenang di alam sana, ya... bersama Allah.”
“Umi benar-benar merasa kehilangan, Cin.”
“Cindi ngerti, Umi... Tapi kalau kita terus meratapi, bukankah itu justru jadi beban untuk Kak Lita di sana? Umi masih ingat waktu Kakek meninggal dulu? Saat itu Cindi ngedrop banget... Tapi Umi yang bilang kalau terlalu larut dalam kesedihan itu nggak baik.”
“Astaghfirullah... benar, Cindi. Kamu benar. Insya Allah Umi akan terus belajar mengikhlaskan kepergian Kakak kamu.”
“Iya, Umi. Dia tetap ada bersama kita. Ada di hati kita semua.”
“Iya, Cindi. Tuhan lebih menyayanginya.”
“Sekarang Umi senyum dong? Aku janji, aku akan mencontoh sikap-sikap positif Kak Lita, sedikit demi sedikit.”
“Terima kasih, Cindi...” suara itu datang dari belakang. Abi.
“Umi bangga sama kamu, Cin. Kamu selalu bisa mengubah tangis menjadi senyuman.”
“Itu karena Cindi sayang banget sama kalian. Nanti, aku akan terus sampaikan kabar kita ke Kak Lita lewat Tuhan... supaya dia tenang dan nggak khawatir.”
“Aamiin,” sahut Abi.
“Sekarang yang harus kita lakukan adalah mendoakan Kak Lita. Karena hanya itu yang bisa kita kirimkan sekarang,” kata Abi lagi.
“Insya Allah, siap, Bi!”
“Insya Allah,” sahut Umi.


---

Tuhan, sekali lagi aku menitip pesan. Sampaikan pada Kak Lita...


---

Dear Kak Lita,

Kakak gimana di sana? Baik-baik aja, kan? Di surga pasti nyaman, ya? Aku, Umi, dan Abi... nanti suatu saat akan berkumpul lagi bersama Kakak di sana. Jangan pernah ngerasa kesepian, ya. Kami selalu mendoakan kebahagiaan Kakak di sana.

Aku tau banget, Kak Lita itu sosok yang kuat dan tegar. Aku sangat yakin, Tuhan pasti memberikan tempat terbaik untuk gadis sebaik Kak Lita.

Oh ya, sekarang aku mulai jadi pengagum senja, seperti Kakak. Sekarang aku ngerti kenapa Kakak suka banget sama senja... Ada sesuatu yang seolah bisa terungkap lewat warna langit saat itu. Senja seperti mengajarkan kita bahwa yang terbit pasti akan terbenam.

Dan yang terbenam... bukan berarti menghilang. Ia hanya berpindah ke sisi langit lain. Seperti Kakak.

Salam cinta,
Cindi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar