Rabu, 09 Juli 2014

Tiada Jalan

Ada hal yang lebih menyakitkan dibandingkan cinta bertepuk sebelah tangan, yaitu memiliki perasaan yang sama tetapi tak kunjung temukan jalan untuk bersama-sama.

Namaku Tania, aku dilahirkan delapan belas tahun silam di Bogor. Saat ini aku tengah sibuk dengan kuliah juga pekerjaan sampinganku sebagai karyawan di salah satu distro. 

Aku tipekal wanita yang suka kejelasan, mudah jenuh, kurang percaya cinta, dan aku sulit mempercayai orang yang berkata cinta, aku juga tidak mudah mendefinisikan rasa yang hadir di hatiku sebagai cinta. Tapi rasa yang sekarang ini benar-benar memaksaku untuk bertahan dalam ketidakjelasan, untuk bersabar meski jenuh, untuk mempercayai bahwa dia benar cinta, dan sudah mendefinisikan rasa dihatiku sebagai cinta. Tapi sekali lagi ini menyakitkan, tentang hubungan yang terombang-ambing karena dua orang pemilik hati tak kunjung temukan jalan untuk bersama. 

Awalnya semua berjalan seperti yang ku inginkan. Aku dan dia berkenalan di kampus, berteman lalu mulai dekat, saling menikmati rasa yang hadir yang mungkin cinta. Namun, saat kami berdua mulai meyakini rasa yang hadir ini sebagai cinta, kami malah tersesat dalam sebuah hubungan dimana kami tak bisa saling menuntut, mengapa? Karena Tio telah mempunyai seorang istri. Ahh ini rumit, benar-benar rumit.
 
Mahasiswa dan mahasiswi lain di kampus kami tak ada yang mengetahui tentang status Tio. Mereka mengira Tio masih sendiri. Tio menikah atas dasar keterpaksaan, karena tuntutan orang tuanya. Jadi kami selingkuh? Tidak, kami tak pernah punya hubungan khusus, kami hanya dekat. Aku bukan wanita kurang ajar yang menghalalkan segala cara untuk itu. Cukup dalam hati aku memanggilnya sayang. Aku tau Tio mencintaiku, Tio telah mengungkapkan perasaannya padaku dan aku pun telah mengungkapkan perasaanku padanya. 

Sudah dua jam aku menunggu Tio di taman ini, taman ini adalah tempat di mana kami biasa bertemu. Tio sudah berjanji akan datang melalui balasan pesan singkat yang ku kirim padanya, aku percaya janjinya, Tio tak pernah mengingkari janjinya. Aku yakin, dia pasti datang ke sini menemuiku untuk memenuhi janjinya. Aku menyilangkan tangan di dadaku, aku merasa kedinginan, berkali-kali aku menatap jam tangan yang melingkar di tanganku. Rintik hujan semakin deras, aku tak peduli, yang jelas aku hanya ingin bertemu Tio. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku enggan pulang ke kostan, aku khawatir jika aku pulang, khawatir jika Tio datang dia kecewa karena tak menemuiku di sini.

Terlihat sebuah mobil singgah di depanku, lalu seseorang turun dari mobil itu. Dia Tio, benar dia Tio. Tio membuka payungnya  berlari kecil menghampiriku, aku tersenyum lega.

“Kamu sudah lama? Kamu kenapa diam saja kehujanan?” tanya Tio, dengan dibalut wajah cemasnya.
“Aku sudah dua jam menunggu kamu di sini. Syukurlah kamu datang, aku lega.” sahutku.
“Kita masuk ke mobil yuk, Tan. Biar aku pinjemin kamu jaket.” ujar Tio sambil memberikan jaketnya kepadaku lalu menuntunku masuk ke mobilnya.
“Terima kasih, Tio.” aku merasa lebih hangat di dalam mobil ini, di samping seseorang yang sangat aku cintai.
“Sama-sama, Tan. Maafin aku ya.” ujar Tio.
“Nggak apa-apa kok, tadi macet?” jawabku.
“Nggak macet kok, tadi aku nganterin istri aku ke dokter kandungan.” jelas Tio.
“Istri kamu hamil?” tanyaku.
“Iya, kata dokter dia positif hamil.” sahut Tio.
“Selamat ya!” kataku sambil menahan kesedihan.
“Makasih, Tan.” ujar Tio sambil menatapku.
“Sama-sama. Bagaimana dengan kita?” tanyaku pelan.
“Aku sangat mencintai kamu, Tania. Tolonglah kamu harus bersabar.” ucap Tio.
“Sampai kapan?” sahutku terisak.
“Paling nggak sampai istriku melahirkan.” ucap Tio dengan nada suara bergetar.
“Nggak, Tio. Aku nggak tega sama istri dan anak dalam rahim istri kamu, lebih baik kita akhiri semua ini.”
“Tapi, Tania, kita sudah susah payah memperjuangkan rasa cinta ini.”
“Tolong, belajarlah mencintai istrimu, dia jauh lebih membutuhkan kamu.” sahutku sambil mengembalikan jaket milik Tio lalu menuruni mobil.
“Baiklah, terima kasih pernah jadi bagian dari hari-hariku.” ucap Tio setengah berteriak.

Aku berjalan di tengah derasnya hujan, hujan yang tak kunjung reda sedari tadi. Tak jauh aku berjalan terdengar suara klakson mobil, ternyata mobil Tio.

“Tania, tolong izinin aku ngenterin kamu sampai kostan. Ayo masuk mobil, aku nggak tega liat kamu hujan-hujanan.”
“Berjanjilah ini yang terakhir.”
“Iya iya Tania, aku janji, ayo naik.”
Aku pun menaiki mobil Tio, di dalam mobil hanya hening, tak ada sedikitpun kami berbincang. Akhirnya kami sampai di kostan.
“Maaf aku nggak bukain kamu pintu.” ujar Tio seolah berpura-pura dingin, aku bisa membaca arti tatapan matanya, mana yang jujur dan mana yang bohong.
“Iya nggak apa-apa. Terima kasih.” ucapku lalu menuruni mobil.
“Selamat tinggal kekasih yang tak sempat aku miliki.” ujar Tio.

Aku masuk kamar kost ku, merebahkan tubuhku di atas kasur. Semua telah berakhir, perjuangan kami sudah terhenti. Rasa sakit ini memang tak akan lenyap begitu saja, tak ada yang mampu mendeskripsikan perasaanku, aku lelah dengan perasaan ini.

Keesokan paginya, aku ke kampus dengan mata bengkak. Teman-temanku banyak yang bertanya keadaanku dengan nada khawatir, dan aku hanya mengatakan bahwa aku sedang sakit mata. 

Aku merasa haus, lalu aku mengajak Dewi ke kantin. Saat di kantin, aku merasa tak ada udara di sini, nafasku sesak, aku melihat Tio bersama istrinya tengah makan di kantin. Aku melihat jelas, Tio sedang menyuapi istrinya sambil menggenggam jemari istrinya. Saat itu juga, aku benar-benar tak kuat melihatnya, seandainya saja Tio bisa memahami isi otakku dan mengerti perasaanku. Seandainya saja ada keajaiban.

“Kamu kenapa, Tan?” tanya Dewi.
“Aku nggak apa-apa kok, Dew. Kayaknya aku nggak jadi ngantin deh. Aku mau pulang aja.”
“Loh bukannya mata kuliah kamu satu jam lagi?”
“Kayaknya aku bolos kuliah dulu deh, aku lemes banget.”
“Nggak mau aku anterin?”
“Nggak usah. Bye, Dew.”
“Bye, hati-hati, Tan.”
“Iya.”

**

Aku tengah berjuang keras, untuk melupakan Tio, untuk menghapus rasa ini. Kini semua orang mengetahui dia lah istri Tio yang sekarang hampir tiap hari menemani Tio, tak ada yang tahu, aku lah orang yang pernah diperjuangkan oleh Tio, pernah atau masih dicintainya dengan sepenuh hati. Setiap saat melihat Tio dengan wanita itu, aku berusaha keras untuk mengubur dalam-dalam perasaanku. Terima kasih Tio, kamu telah menuruti permintaanku, untuk mengalihkan rasa cintamu padaku kepada istrimu. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena aku tau, dalam cinta tak pernah ada yang salah, aku malas berbicara tentang perasaanku ini pada siapapun.

Tenang saja Tio, sekarang sudah ada seseorang yang baru, yang ku cintai secara biasa-biasa saja. Tak ada yang menggebu seperti saat aku mencintai kamu. Jangan khawatirkan aku, dia selalu menghiburku, tetapi apa aku menganggapnya pelarian? Sudahlah aku hanya ingin mengikuti arus. Setiap cerita harus mempunyai akhir, sedih ataupun bahagia, ini memang bukan akhir yang aku inginkan, seharusnya waktu itu aku tak usah terlalu penasaran dengan sosokmu. Rasa penasaran yang akhirnya menimbulkan perasaan. Ini jalan hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar