Rabu, 02 Juli 2014

Holiday

Beberapa tahun lalu, aku pernah berlibur ke Surabaya dan Yogyakarta bersama keluarga besar—tepatnya bareng Ciwi (tanteku), Om Evan, Ciwu (tante juga), dan sepupu-sepupuku: Rama, Faris, Nazher, dan Azmi. Waktu itu, Mama dan Abah nggak ikut.

Meskipun cuma sekitar sepuluh hari, aku benar-benar merasa kangen berat. Jauh dari Mama dan Abah membuatku sadar betapa aku terbiasa banget dikelilingi mereka. Aku juga kangen sama kelinciku di rumah. Sayangnya, kelinci kecil itu meninggal waktu aku masih di perjalanan liburan—kata Mama, mungkin dia stres karena biasanya sering diajak main dan tiba-tiba aku pergi. Sedih banget pas tahu kabarnya. Sejak itu, aku jadi trauma buat pelihara kelinci lagi. Takut keulang. 😢

Selama di Surabaya dan Jogja, sebenarnya banyak momen seru. Tapi setiap malam, rasanya tetap ada yang kosong. Mama dan Abah juga beberapa kali nelpon—aku yakin mereka juga sama galaunya. Hihi. kibas jilbab ala-ala selebgram 😆

Lucu juga kalau diingat sekarang, betapa mellow-nya aku waktu itu. Baru pisah sebentar aja udah galau, udah kayak ditinggalin setahun. Tapi ya begitulah... kalau terbiasa dekat dengan orang tua, pisah sebentar pun rasanya kayak jauh banget.

Dari situ aku belajar, meskipun sesayang itu sama keluarga, kita juga harus siap pelan-pelan mandiri. Karena waktu nggak akan berhenti, dan kita pasti akan dihadapkan pada momen-momen harus jalan sendiri. Tapi nggak apa-apa, kan? Tumbuh itu proses. Kadang lewat tangis, kadang lewat kehilangan kecil seperti kepergian kelinci kesayangan. Yang penting, aku terus belajar.

Hari itu mungkin hanya satu potong dari perjalanan hidupku, tapi aku nggak akan lupa rasanya—rasanya belajar rindu, belajar kehilangan, dan mulai memahami arti rumah yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar