Minggu, 27 Juli 2014

Renungan Untuk Diri Di Penghujung Ramadhan

Nggak terasa, Ramadhan tahun ini hampir berlalu. Alhamdulillah, selama sebulan penuh aku nggak pernah kebablasan sahur. Di tengah hiruk-pikuk gotong royong di rumah—menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut lebaran besok—aku masih menyempatkan diri untuk merenung dan introspeksi.

Menepi sejenak dari keramaian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergaung di dalam hati:
Ingin jadi apa aku?
Hal apa yang sungguh-sungguh aku inginkan di masa depan?
Apa yang membuat aku merasa cukup, tenang, nyaman… dan sungguh bahagia?
Dan apa yang bisa aku berikan untuk orang-orang yang aku sayangi, dan yang menyayangiku sepenuh hati?

Satu hal yang pasti: aku ingin terus berusaha, menempuh setiap langkah dengan sungguh-sungguh. Menghasilkan hal-hal yang tak biasa-biasa saja, dan menebar lebih banyak senyuman di wajah orang lain.

Aku tahu, Tuhan selalu menyisipkan hikmah di balik setiap cerita hidup yang dituliskan-Nya untukku. Maka aku ingin belajar lebih banyak bersyukur, lebih banyak bersabar, dan lebih giat memperbaiki ibadah yang masih sangat biasa-biasa saja ini.

Segalanya berubah. Waktu mengubah banyak hal—termasuk aku.
Dan aku berharap, perubahan itu selalu menuju arah yang lebih baik.
Banyak orang baru hadir dalam hidupku. Tapi tak sedikitpun mengurangi rasa sayangku kepada mereka yang lebih dulu hadir. Aku ingin terus belajar untuk tetap menghargai, tetap menyayangi. Karena aku percaya: pertemuan adalah takdir yang Tuhan atur dengan penuh pertimbangan. :)

Besok, lebaran datang.
Seperti biasa, saatnya bersilaturahmi, saling memaafkan, dan menyambung kembali tali yang mungkin sempat renggang.
Dan bagiku, mendengar gema takbir berkumandang… adalah salah satu nikmat paling indah di dunia.
Alhamdulillah.

Semoga Allah mempertemukan kita lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Aamiin.
Sampai jumpa lagi, Ramadhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar