Kamis, 18 September 2014

(Tidak) Terabaikan

Hal bodoh ini kembali kulakukan. Duduk di halte, menunggu bus yang akan membawaku ke sekolah. Padahal aku tak pernah benar-benar menyukai naik bus—berdesak-desakan dengan orang-orang sibuk yang tak peduli satu sama lain. Tapi aku tetap menunggu. Lagi.

Semua karena satu alasan: Radit.

Dia lelaki yang usianya mungkin sebaya denganku. Kami pertama kali bertemu di halte ini juga, saat Ayah tak bisa menjemputku sepulang sekolah. Radit yang menyapa duluan—ramah, hangat. Aku masih ingat, siang itu hari Kamis. Sejak percakapan pertama itu… ada sesuatu yang berbeda.

Aku, yang biasanya dingin pada orang asing, bisa bercakap dengannya seolah sudah kenal lama. Dari situlah aku meminta akun Facebook dan Twitternya, lalu mencari tahu lebih banyak tentang dia. Dari dunia maya, aku tahu Radit pandai bela diri. Entahlah, mungkin sejak itu aku mulai tertarik padanya.

Selama tiga bulan, kami sering bertemu di halte dan di bus—saling menyapa, saling tertawa kecil, saling melempar obrolan ringan yang anehnya terasa menyenangkan. Setelahnya, aku jadi rutin datang ke halte tepat di jam keberangkatan Radit. Supaya bisa bertemu. Supaya bisa duduk bersebelahan di bus. Supaya bisa sekadar melihat senyumnya.

Namun semuanya berubah. Radit yang dulu ramah mendadak terasa asing. Tatapannya dingin. Ia tak lagi menyapa. Di media sosial pun ia tak lagi menyukai atau mengomentari statusku. Padahal perasaanku sudah jauh lebih besar daripada sekadar ketertarikan.

Aku jatuh cinta.
Dan mungkin… aku juga takut kehilangan.

Lalu aku tahu alasannya. Radit sudah punya kekasih. Aku melihat status Facebook-nya—hubungannya tertera jelas. Foto profil Twitternya menunjukkan dirinya tersenyum bersama seorang gadis cantik. Tapi entah kenapa, aku merasa… mereka tidak cocok.

Oh Tuhan… apakah ini cemburu?

Meski begitu, aku tetap ingin bersahabat dengannya. Benar-benar ingin bersahabat atau sebenarnya berharap lebih… aku tidak tahu. Yang jelas, pagi itu aku mengikuti dorongan kecil dalam hatiku. Aku memberanikan diri menyapanya.

“Radit.”
“Ya?” jawabnya singkat.
“Apa kabar?” tanyaku dengan senyum paksa.
“Baik,” katanya datar.

Hanya itu. Jawaban pendek, dingin. Tapi aku tidak menyalahkannya. Pertanyaanku memang tidak penting. Tapi aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya… hatinya… perasaannya… yang dulu begitu hangat.

Bus datang. Kami naik seperti biasa. Karena desakan penumpang, minuman yang kubawa tumpah mengenai seragam Radit.

“Ya ampun! Maaf banget, Dit! Aku nggak sengaja!”
“Oh my God… gimana aku mau ke sekolah dengan baju sekotor ini…”

Dalam panik, aku mengambil keputusan spontan.

“Kita turun di sini!”
“Pak sopir, berhenti ya!”

Bus berhenti di halte dekat pasar. Jauh dari sekolahku—apalagi sekolah Radit.

“Kenapa kita turun di sini?”
“Udahlah. Jangan banyak tanya. Kita ke pasar.”

Aku menarik tangannya masuk ke pasar. Aku membelikannya seragam pramuka baru, karena baju lamanya penuh tumpahan cokelat. Ia berganti di toilet umum, lalu kami kembali naik bus. Untung masih pukul enam.

Sebelum turun, aku tersenyum—senyum yang menyimpan rasa suka sekaligus rasa bersalah. Kupikir ini akan jadi momen manis. Tapi tetap saja, besok aku berniat minta maaf lebih baik.

Aku mengingat semua detail tentangmu, Radit. Kupikir rasa itu dua arah. Tapi ternyata aku terlalu percaya diri.


---

Pagi berikutnya, aku tiba di halte. Radit tidak ada. Sampai akhirnya dia melintas dengan motor barunya… membonceng seorang perempuan.

Dadaku langsung sesak.

“Nina… Nin!” panggil Radit.

Dia mengenalkanku pada perempuan itu.
Nita. Pacarnya.

Dan saat itu juga, semua harapan runtuh.

Aku tidak naik bus hari itu. Terlalu sesak. Aku naik ojek sambil meneteskan air mata.


---

Dua bulan berlalu.
Hatiku membaik. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk bernapas. Aku tidak membenci Radit. Luka itu pelan-pelan sembuh meski masih perih kadang-kadang.

Yang kutahu:
Aku harus merelakannya.


---

POV Radit — Dua Bulan Kemudian

Sudah dua bulan sejak aku berhenti naik bus. Dan sejak mengenalkan Nita ke Nina… sesuatu berubah. Akhir-akhir ini aku justru sering memikirkan Nina.

Aku mulai sadar… kenapa ya aku nggak pernah senyaman itu lagi?

Dengan Nita, aku sering pura-pura peduli. Lama-lama hambar. Bukan salah siapa-siapa.
Yang salah… mungkin aku. Yang pengecut. Yang salah paham. Yang takut jujur waktu itu.

Aku kangen halte itu.
Kangen tawa kecilnya.
Kangen Nina.

Akhirnya aku dan Nita berpisah. Baik-baik saja. Tidak ada drama. Hanya dua orang yang mengakui hubungan itu memang tidak lagi punya alasan.

Dan hanya satu nama yang masih tertinggal di dadaku.


---

POV Radit — Dua Tahun Kemudian

Di sebuah kafe, sambil menunggu antrian kopi, aku menoleh… dan melihatnya.

“Nina?”

Dia terdiam, lalu tersenyum kecil.
“Radit… lama banget ya.”

Kami duduk, ngobrol. Awalnya kikuk, tapi lama-lama hangatnya kembali. Dua tahun yang lalu, kami memang sering berbalas pesan di Facebook. Tapi tetap ada jarak—jarak yang ternyata punya alasan konyol.

“Kamu… waktu itu beneran punya pacar?” tanyaku pelan.
“Apa? Kapan?” Nina bingung.
“Yang pas teman kamu posting foto, manggil kamu ‘sayang’. Aku kira kalian pacaran.”

Entah kenapa Nina tiba-tiba menahan tawa.
“Ya ampun, Dit. Itu Bram. Dia lekong.”

Aku terbelalak. “Serius?”
“Serius banget.” 

Aku menghela napas panjang, malu sekali.
“Pantes aku mikir kamu udah punya seseorang. Dan… aku mundur.” Nina menatapku lebih lama.
“Dit… aku dulu putus sama seseorang karena capek pura-pura nyaman.”

Aku menahan napas.
“Sama orang yang bukan aku?”

Nina mengangguk kecil.

Tanganku gemetar sedikit, tidak menghindar lagi. Tidak seperti dulu. Tidak seperti saat semuanya masih abu-abu.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun…

Kami tidak terburu-buru.
Tidak saling salah paham.
Tidak saling menyembunyikan rasa.

Kami saling tahu.
Kami saling kembali.
Dan perlahan… kami saling menemukan lagi.

Dengan cara yang lebih dewasa. 
Lebih jujur. 
Lebih tulus.

Dan mungkin…
kali ini, kami akhirnya pulang pada tempat yang sama:
satu sama lain.


Nina menatapku.
“Dit… harusnya kamu nanya. Bukan malah pacaran sama cewek lain.”

Aku tersenyum miris. “Iya. Itu memang bodoh. Nggak bakal ku ulangi.”

Hening. Hangat. Tidak canggung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar