Cinta itu menyenangkan, tapi aku takut.
Bagaimana jika dia mengkhianatiku?
Bagaimana jika dia membohongiku?
Bagaimana jika aku hanya persinggahan?
Bagaimana jika aku hanyalah imajinasi yang ia mainkan di sela-sela waktunya?
Bagaimana jika aku tak boleh memamerkan hubungan ini?
Bagaimana jika tak seorang pun tahu kami pernah ada, lalu aku harus diam saat melihatnya bebas bersama siapa saja?
Bagaimana jika dia asyik tertawa dengan yang lain, sementara suaraku tak pernah terdengar?
Ya, ini aku—Bianca.
Perempuan yang selalu lebih dulu memikirkan kemungkinan terburuk.
Bukan untuk membuat semuanya rumit, tapi karena aku ingin bersiap.
Namun satu hal yang sering luput:
Sebesar apapun ketakutan itu, aku tak bisa menolak cinta.
Aku bisa memadamkan ketakutanku—dengan cinta itu sendiri.
Saat aku mulai mencintai, aku harus menanti.
Kini aku masih bertahan dalam penantian.
Entah kenapa, entah bagaimana...
Jika dia tak kembali, bagaimana?
Aku tak tahu seberapa besar lagi sakit yang harus kutanggung dari menanti ini.
Jika cinta ini tak lebih besar dari waktu yang terbuang, mungkin aku sudah menyerah sejak lama.
Seandainya menghapus cinta semudah memejamkan mata...
Seandainya ia bisa hilang hanya dengan lagu pelan...
Aku pasti tak akan sesakit ini.
Tapi aku tak menyesal.
Cinta ini, meski menyakitkan, telah menjelaskan banyak hal—termasuk ketakutan yang dulu begitu samar.
Pernahkah kamu mencintai dan disia-siakan?
Pernahkah kau dihadiahi janji, hanya untuk dikhianati?
Pernahkah kamu begitu percaya, lalu harus berhenti di tengah jalan?
Pernahkah kamu setia menanti, menangis karena rindu, sementara dia tak kunjung kembali?
Jika iya, mari berbagi luka.
Kau tak perlu menghapus semua kenangan.
Tak perlu melumpuhkan ingatan tentang dia.
Yang kau butuhkan hanya satu: ikhlas.
Tuhan tahu caranya merapikan hati kita—lebih baik dari yang bisa kita bayangkan.
Dan satu hal lagi...
Cinta tak bisa begitu saja dialihkan pada orang lain. Tidak, tidak semudah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar