Sabtu, 27 September 2014

Mengenal Mereka


Sepertiga malam tiba dalam diam, menggelap bersama langit yang menunduk pasrah. Tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara. Dunia seakan dililit kesenyapan—kecuali satu: hatiku yang berdegup, lirih tapi pasti. Aku duduk bersimpuh dalam cahaya remang, menatap ayat-ayat-Nya, berharap hening malam dapat menjawab tanya yang tak kunjung reda.

"Ya Rabb, benarkah ini cinta? Apakah rasa yang menyesaki dada ini fitrah dari-Mu? Atau hanya gejolak yang menyamar rapi menjadi harap?"

Aku menggigil, bukan karena dingin, tapi karena rindu yang mencengkeram. Wajahnya—lelaki itu—terbayang tanpa permisi, hadir saat mataku terpejam, dan menetap bahkan ketika aku bersujud. Aku tahu, ini bisa menjadi ujian, bisa pula jadi rahmat, jika aku menjaganya di jalan-Mu.

Tolong aku, Ya Rahman, untuk tidak mencintainya melebihi cintaku kepada-Mu.

Fajar pun menyingsing, mengusir malam dengan cahaya yang lembut. Usai subuh, aku memulai rutinitasku: menyiapkan diri, menjaga pandangan, merawat niat. Hari ini aku kembali ke tempat yang pelan-pelan mengubah caraku melihat dunia—rumah singgah itu.

Dulu aku hanya mendengarnya sepintas. Sekadar tempat anak-anak jalanan berkumpul. Tapi sejak aku mengajar di sana, hidupku berubah. Di sana aku belajar tentang syukur. Tentang berbagi. Tentang bagaimana ilmu tak hanya tinggal dalam buku, tapi hidup dalam perbuatan.

Aku masih ingat hari pertama menjejakkan kaki ke sana. Aku disambut oleh seorang perempuan—penampilannya sederhana, tapi berlimpah keteduhan. Jilbabnya lebar, lengan dan kakinya tertutup rapi. Bahkan senyumnya pun terjaga. Zahra, namanya.

“Kamu ini siapa?” tanyanya kala itu, lembut dan bersahaja.

“Aku Fitri… aku ingin mengajar di sini. Bisa?” ucapku gugup.

“Alhamdulillah. Senang sekali. Kami baru punya dua pengajar, aku dan abangku.”

“Berarti… aku boleh bergabung?”

“Tentu. Aku Zahra, panggil saja Zahra ya.”

Hari itu, aku merasa kecil. Jilbabku masih pendek, celanaku masih jeans ketat. Aku belum seutuhnya menutup aurat. Tapi Zahra tidak memandangku aneh, justru menerima aku dengan tangan terbuka.

Lalu dia membawaku menemui abangnya—Fikri.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

“Bang, ini Fitri. Dia ingin mengajar.”

Fikri menyambutku dengan anggukan dan senyum singkat. “Alhamdulillah. Silakan bergabung.”

Saat itulah jantungku berdebar, lain dari biasanya. Ada sesuatu dari caranya berbicara yang membuatku gugup, ada cahaya dalam matanya yang tak bisa kulupakan. Getaran itu, begitu murni… atau begitukah rasanya cinta yang terjaga?

Hari demi hari berlalu, dan aku makin larut dalam ketenangan yang ditawarkan tempat ini. Zahra dan Fikri menjadi teman seperjuangan, dan aku mulai belajar banyak hal. Zahra bukan hanya sabar, dia juga penghafal Qur’an. Aku? Aku masih terbata membaca ayat-ayat-Nya. Tapi justru dari Zahra aku belajar bahwa hidayah adalah perjalanan, bukan perlombaan.

Aku sering menangis diam-diam sepulang dari rumah singgah. Bukan karena sedih, tapi karena malu. Malu kepada Tuhanku. Aku mencintai Fikri, tapi aku belum cukup mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta. Aku ingin bisa memperbaiki diri, bukan demi Fikri, tapi demi menjadi versi terbaik dari diriku di mata-Nya.

Di malam-malam berikutnya, aku kembali memanjatkan doa. Tapi kali ini berbeda.

“Ya Rabb, jika rasa ini adalah karunia, jaga ia dalam koridor-Mu. Jika ia akan menyesatkanku, maka redamkanlah. Aku tak ingin mencintai tanpa izin-Mu. Tapi bila benar dia adalah takdir yang Kau tulis untukku, maka tuntunlah kami untuk saling menjaga.”

Sejak hari itu, aku mulai melangkah lebih hati-hati. Memperbaiki cara berpakaian, cara berbicara, dan tentu saja cara mencintai. Aku masih Fitri, tapi Fitri yang sedang tumbuh. Fitri yang sedang berusaha.

Rumah singgah itu menjadi saksi—betapa aku mulai mengenali diriku sendiri. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sendiri.
Bukan karena aku sudah sepenuhnya baik, bukan karena aku sudah suci. Tapi karena aku tahu, di jalan pulang menuju Tuhan, aku tidak berjalan sendirian. Ada cinta yang kujaga diam-diam, ada anak-anak yang menuntunku pada makna syukur, ada teman-teman yang meneladankan keikhlasan.
Dan ada aku—yang akhirnya berani berharap, bahwa mungkin... Allah juga sedang menungguku.

Kamis, 18 September 2014

(Tidak) Terabaikan

Hal bodoh ini kembali kulakukan. Duduk di halte, menunggu bus yang akan membawaku ke sekolah. Padahal aku tak pernah benar-benar menyukai naik bus—berdesak-desakan dengan orang-orang sibuk yang tak peduli satu sama lain. Tapi aku tetap menunggu. Lagi.

Semua karena satu alasan: Radit.

Dia lelaki yang usianya mungkin sebaya denganku. Kami pertama kali bertemu di halte ini juga, saat Ayah tak bisa menjemputku sepulang sekolah. Radit yang menyapa duluan—ramah, hangat. Aku masih ingat, siang itu hari Kamis. Sejak percakapan pertama itu… ada sesuatu yang berbeda.

Aku, yang biasanya dingin pada orang asing, bisa bercakap dengannya seolah sudah kenal lama. Dari situlah aku meminta akun Facebook dan Twitternya, lalu mencari tahu lebih banyak tentang dia. Dari dunia maya, aku tahu Radit pandai bela diri. Entahlah, mungkin sejak itu aku mulai tertarik padanya.

Selama tiga bulan, kami sering bertemu di halte dan di bus—saling menyapa, saling tertawa kecil, saling melempar obrolan ringan yang anehnya terasa menyenangkan. Setelahnya, aku jadi rutin datang ke halte tepat di jam keberangkatan Radit. Supaya bisa bertemu. Supaya bisa duduk bersebelahan di bus. Supaya bisa sekadar melihat senyumnya.

Namun semuanya berubah. Radit yang dulu ramah mendadak terasa asing. Tatapannya dingin. Ia tak lagi menyapa. Di media sosial pun ia tak lagi menyukai atau mengomentari statusku. Padahal perasaanku sudah jauh lebih besar daripada sekadar ketertarikan.

Aku jatuh cinta.
Dan mungkin… aku juga takut kehilangan.

Lalu aku tahu alasannya. Radit sudah punya kekasih. Aku melihat status Facebook-nya—hubungannya tertera jelas. Foto profil Twitternya menunjukkan dirinya tersenyum bersama seorang gadis cantik. Tapi entah kenapa, aku merasa… mereka tidak cocok.

Oh Tuhan… apakah ini cemburu?

Meski begitu, aku tetap ingin bersahabat dengannya. Benar-benar ingin bersahabat atau sebenarnya berharap lebih… aku tidak tahu. Yang jelas, pagi itu aku mengikuti dorongan kecil dalam hatiku. Aku memberanikan diri menyapanya.

“Radit.”
“Ya?” jawabnya singkat.
“Apa kabar?” tanyaku dengan senyum paksa.
“Baik,” katanya datar.

Hanya itu. Jawaban pendek, dingin. Tapi aku tidak menyalahkannya. Pertanyaanku memang tidak penting. Tapi aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya… hatinya… perasaannya… yang dulu begitu hangat.

Bus datang. Kami naik seperti biasa. Karena desakan penumpang, minuman yang kubawa tumpah mengenai seragam Radit.

“Ya ampun! Maaf banget, Dit! Aku nggak sengaja!”
“Oh my God… gimana aku mau ke sekolah dengan baju sekotor ini…”

Dalam panik, aku mengambil keputusan spontan.

“Kita turun di sini!”
“Pak sopir, berhenti ya!”

Bus berhenti di halte dekat pasar. Jauh dari sekolahku—apalagi sekolah Radit.

“Kenapa kita turun di sini?”
“Udahlah. Jangan banyak tanya. Kita ke pasar.”

Aku menarik tangannya masuk ke pasar. Aku membelikannya seragam pramuka baru, karena baju lamanya penuh tumpahan cokelat. Ia berganti di toilet umum, lalu kami kembali naik bus. Untung masih pukul enam.

Sebelum turun, aku tersenyum—senyum yang menyimpan rasa suka sekaligus rasa bersalah. Kupikir ini akan jadi momen manis. Tapi tetap saja, besok aku berniat minta maaf lebih baik.

Aku mengingat semua detail tentangmu, Radit. Kupikir rasa itu dua arah. Tapi ternyata aku terlalu percaya diri.


---

Pagi berikutnya, aku tiba di halte. Radit tidak ada. Sampai akhirnya dia melintas dengan motor barunya… membonceng seorang perempuan.

Dadaku langsung sesak.

“Nina… Nin!” panggil Radit.

Dia mengenalkanku pada perempuan itu.
Nita. Pacarnya.

Dan saat itu juga, semua harapan runtuh.

Aku tidak naik bus hari itu. Terlalu sesak. Aku naik ojek sambil meneteskan air mata.


---

Dua bulan berlalu.
Hatiku membaik. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk bernapas. Aku tidak membenci Radit. Luka itu pelan-pelan sembuh meski masih perih kadang-kadang.

Yang kutahu:
Aku harus merelakannya.


---

POV Radit — Dua Bulan Kemudian

Sudah dua bulan sejak aku berhenti naik bus. Dan sejak mengenalkan Nita ke Nina… sesuatu berubah. Akhir-akhir ini aku justru sering memikirkan Nina.

Aku mulai sadar… kenapa ya aku nggak pernah senyaman itu lagi?

Dengan Nita, aku sering pura-pura peduli. Lama-lama hambar. Bukan salah siapa-siapa.
Yang salah… mungkin aku. Yang pengecut. Yang salah paham. Yang takut jujur waktu itu.

Aku kangen halte itu.
Kangen tawa kecilnya.
Kangen Nina.

Akhirnya aku dan Nita berpisah. Baik-baik saja. Tidak ada drama. Hanya dua orang yang mengakui hubungan itu memang tidak lagi punya alasan.

Dan hanya satu nama yang masih tertinggal di dadaku.


---

POV Radit — Dua Tahun Kemudian

Di sebuah kafe, sambil menunggu antrian kopi, aku menoleh… dan melihatnya.

“Nina?”

Dia terdiam, lalu tersenyum kecil.
“Radit… lama banget ya.”

Kami duduk, ngobrol. Awalnya kikuk, tapi lama-lama hangatnya kembali. Dua tahun yang lalu, kami memang sering berbalas pesan di Facebook. Tapi tetap ada jarak—jarak yang ternyata punya alasan konyol.

“Kamu… waktu itu beneran punya pacar?” tanyaku pelan.
“Apa? Kapan?” Nina bingung.
“Yang pas teman kamu posting foto, manggil kamu ‘sayang’. Aku kira kalian pacaran.”

Entah kenapa Nina tiba-tiba menahan tawa.
“Ya ampun, Dit. Itu Bram. Dia lekong.”

Aku terbelalak. “Serius?”
“Serius banget.” 

Aku menghela napas panjang, malu sekali.
“Pantes aku mikir kamu udah punya seseorang. Dan… aku mundur.” Nina menatapku lebih lama.
“Dit… aku dulu putus sama seseorang karena capek pura-pura nyaman.”

Aku menahan napas.
“Sama orang yang bukan aku?”

Nina mengangguk kecil.

Tanganku gemetar sedikit, tidak menghindar lagi. Tidak seperti dulu. Tidak seperti saat semuanya masih abu-abu.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun…

Kami tidak terburu-buru.
Tidak saling salah paham.
Tidak saling menyembunyikan rasa.

Kami saling tahu.
Kami saling kembali.
Dan perlahan… kami saling menemukan lagi.

Dengan cara yang lebih dewasa. 
Lebih jujur. 
Lebih tulus.

Dan mungkin…
kali ini, kami akhirnya pulang pada tempat yang sama:
satu sama lain.


Nina menatapku.
“Dit… harusnya kamu nanya. Bukan malah pacaran sama cewek lain.”

Aku tersenyum miris. “Iya. Itu memang bodoh. Nggak bakal ku ulangi.”

Hening. Hangat. Tidak canggung.

Koleksi

Dulu waktu orang-orang lagi pada sibuk ngoleksi boneka, perangko, gantungan kunci, atau apalah itu yang lucu-lucu, aku tuh... nggak punya satu pun koleksi seperti itu. Nggak ngerti juga kenapa. Kadang mikir, "Apa aku aneh ya?" Tapi makin ke sini, aku sadar: aku juga punya koleksi. Bukan benda, tapi hal-hal yang melekat di diri aku—sifat, kebiasaan, dan cara pandang.

Jadi, inilah "koleksi" aku:
koleksi versi manusia yang (masih) belajar mengenal dirinya sendiri.


---

🌸 Pemikir Panjang
Sebelum ngelakuin sesuatu, aku selalu mikir berkali-kali. Semua kemungkinan dibayangkan, semua skenario dibuka. Kayak main catur sama hidup. Kadang ini bantu banget, kadang malah bikin ragu dan bimbang sendiri. Tapi ya gitu deh, aku nggak suka gegabah.

🌸 Pemikir Berlebihan (Overthinking Club, ada yang mau gabung?)
Satu kata bisa kuputar otak semalaman. Bukan lebay ya, tapi emang kayak gitu otakku bekerja. Kadang bisa capek sendiri, tapi juga ngerasa... “Eh aku perhatian juga ya ternyata.”

🌸 Salkus alias Salah Fokus
Nah ini... kayaknya udah bawaan lahir. Sering banget orang ngomong apa, aku jawabnya nyambung sama isi pikiranku sendiri, bukan yang dia maksud. Aku menyebutnya "salkus" — salah fokus yang lucu tapi ngeselin juga. Hihi.

🌸 Nggak Enakan
Aku tipe orang yang kalau temen gagal, aku bisa menahan diri buat nggak terlalu bahagia walau aku berhasil. Bukan karena nggak bersyukur, tapi karena aku nggak pengen nyakitin hati orang. Sifat ini bikin aku bisa jaga perasaan orang, tapi kadang bikin aku nge-pause kebahagiaanku sendiri. Ribet ya? Iya, aku tahu.

🌸 Perfectionist tapi Manusia Biasa
Aku suka semua hal rapi, sempurna, dan sesuai bayangan. Tapi kenyataannya… hidup nggak selalu bisa dikotakin. Aku masih sering kecewa sama diri sendiri kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi. Tapi aku juga belajar: bahkan ketidaksempurnaan pun layak untuk dicintai.

🌸 Lagi Suka Warna Coklat, Hitam, dan Abu
Lagi seneng banget sama warna-warna kalem kayak coklat kopi, abu-abu mendung, dan hitam yang elegan. Rasanya adem, tenang, dan… kayak cocok aja sama fase hidupku sekarang yang lagi banyak mikir, banyak diam, tapi tetep pengen keliatan ‘pulang’.

🌸 Penyuka Doraemon Sejati
Kalau ngomongin koleksi, satu hal yang nggak boleh ketinggalan: aku sukaaaa banget sama Doraemon. Suara robotnya, kantong ajaibnya, dan semua mimpi masa kecil yang dia bawa... selalu bikin aku hangat dan semangat. Mungkin karena aku juga pengen punya kantong ajaib yang bisa bantu aku keluar dari masalah hidup. Hehe.


---

Jadi ya… meskipun aku nggak punya koleksi gantungan kunci lucu atau tempelan kulkas dari luar negeri, aku punya koleksi lain—koleksi versi diri. Versi yang mungkin belum sepenuhnya dewasa, tapi sudah cukup jujur.


---

Kalau kamu baca ini dan ngerasa relate, yuk sharing juga, koleksi unik apa yang kamu punya di dalam diri?

Minggu, 14 September 2014

Bagaimana Jika...

Cinta itu menyenangkan, tapi aku takut.
Bagaimana jika dia mengkhianatiku?
Bagaimana jika dia membohongiku?
Bagaimana jika aku hanya persinggahan?
Bagaimana jika aku hanyalah imajinasi yang ia mainkan di sela-sela waktunya?
Bagaimana jika aku tak boleh memamerkan hubungan ini?
Bagaimana jika tak seorang pun tahu kami pernah ada, lalu aku harus diam saat melihatnya bebas bersama siapa saja?
Bagaimana jika dia asyik tertawa dengan yang lain, sementara suaraku tak pernah terdengar?

Ya, ini aku—Bianca.
Perempuan yang selalu lebih dulu memikirkan kemungkinan terburuk.
Bukan untuk membuat semuanya rumit, tapi karena aku ingin bersiap.
Namun satu hal yang sering luput:
Sebesar apapun ketakutan itu, aku tak bisa menolak cinta.
Aku bisa memadamkan ketakutanku—dengan cinta itu sendiri.

Saat aku mulai mencintai, aku harus menanti.
Kini aku masih bertahan dalam penantian.
Entah kenapa, entah bagaimana...
Jika dia tak kembali, bagaimana?

Aku tak tahu seberapa besar lagi sakit yang harus kutanggung dari menanti ini.
Jika cinta ini tak lebih besar dari waktu yang terbuang, mungkin aku sudah menyerah sejak lama.
Seandainya menghapus cinta semudah memejamkan mata...
Seandainya ia bisa hilang hanya dengan lagu pelan...
Aku pasti tak akan sesakit ini.

Tapi aku tak menyesal.
Cinta ini, meski menyakitkan, telah menjelaskan banyak hal—termasuk ketakutan yang dulu begitu samar.

Pernahkah kamu mencintai dan disia-siakan?
Pernahkah kau dihadiahi janji, hanya untuk dikhianati?
Pernahkah kamu begitu percaya, lalu harus berhenti di tengah jalan?
Pernahkah kamu setia menanti, menangis karena rindu, sementara dia tak kunjung kembali?

Jika iya, mari berbagi luka.
Kau tak perlu menghapus semua kenangan.
Tak perlu melumpuhkan ingatan tentang dia.
Yang kau butuhkan hanya satu: ikhlas.

Tuhan tahu caranya merapikan hati kita—lebih baik dari yang bisa kita bayangkan.
Dan satu hal lagi...
Cinta tak bisa begitu saja dialihkan pada orang lain. Tidak, tidak semudah itu.