Sepertiga malam tiba dalam diam, menggelap bersama langit yang menunduk pasrah. Tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara. Dunia seakan dililit kesenyapan—kecuali satu: hatiku yang berdegup, lirih tapi pasti. Aku duduk bersimpuh dalam cahaya remang, menatap ayat-ayat-Nya, berharap hening malam dapat menjawab tanya yang tak kunjung reda.
"Ya Rabb, benarkah ini cinta? Apakah rasa yang menyesaki dada ini fitrah dari-Mu? Atau hanya gejolak yang menyamar rapi menjadi harap?"
Aku menggigil, bukan karena dingin, tapi karena rindu yang mencengkeram. Wajahnya—lelaki itu—terbayang tanpa permisi, hadir saat mataku terpejam, dan menetap bahkan ketika aku bersujud. Aku tahu, ini bisa menjadi ujian, bisa pula jadi rahmat, jika aku menjaganya di jalan-Mu.
Tolong aku, Ya Rahman, untuk tidak mencintainya melebihi cintaku kepada-Mu.
Fajar pun menyingsing, mengusir malam dengan cahaya yang lembut. Usai subuh, aku memulai rutinitasku: menyiapkan diri, menjaga pandangan, merawat niat. Hari ini aku kembali ke tempat yang pelan-pelan mengubah caraku melihat dunia—rumah singgah itu.
Dulu aku hanya mendengarnya sepintas. Sekadar tempat anak-anak jalanan berkumpul. Tapi sejak aku mengajar di sana, hidupku berubah. Di sana aku belajar tentang syukur. Tentang berbagi. Tentang bagaimana ilmu tak hanya tinggal dalam buku, tapi hidup dalam perbuatan.
Aku masih ingat hari pertama menjejakkan kaki ke sana. Aku disambut oleh seorang perempuan—penampilannya sederhana, tapi berlimpah keteduhan. Jilbabnya lebar, lengan dan kakinya tertutup rapi. Bahkan senyumnya pun terjaga. Zahra, namanya.
“Kamu ini siapa?” tanyanya kala itu, lembut dan bersahaja.
“Aku Fitri… aku ingin mengajar di sini. Bisa?” ucapku gugup.
“Alhamdulillah. Senang sekali. Kami baru punya dua pengajar, aku dan abangku.”
“Berarti… aku boleh bergabung?”
“Tentu. Aku Zahra, panggil saja Zahra ya.”
Hari itu, aku merasa kecil. Jilbabku masih pendek, celanaku masih jeans ketat. Aku belum seutuhnya menutup aurat. Tapi Zahra tidak memandangku aneh, justru menerima aku dengan tangan terbuka.
Lalu dia membawaku menemui abangnya—Fikri.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
“Bang, ini Fitri. Dia ingin mengajar.”
Fikri menyambutku dengan anggukan dan senyum singkat. “Alhamdulillah. Silakan bergabung.”
Saat itulah jantungku berdebar, lain dari biasanya. Ada sesuatu dari caranya berbicara yang membuatku gugup, ada cahaya dalam matanya yang tak bisa kulupakan. Getaran itu, begitu murni… atau begitukah rasanya cinta yang terjaga?
Hari demi hari berlalu, dan aku makin larut dalam ketenangan yang ditawarkan tempat ini. Zahra dan Fikri menjadi teman seperjuangan, dan aku mulai belajar banyak hal. Zahra bukan hanya sabar, dia juga penghafal Qur’an. Aku? Aku masih terbata membaca ayat-ayat-Nya. Tapi justru dari Zahra aku belajar bahwa hidayah adalah perjalanan, bukan perlombaan.
Aku sering menangis diam-diam sepulang dari rumah singgah. Bukan karena sedih, tapi karena malu. Malu kepada Tuhanku. Aku mencintai Fikri, tapi aku belum cukup mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta. Aku ingin bisa memperbaiki diri, bukan demi Fikri, tapi demi menjadi versi terbaik dari diriku di mata-Nya.
Di malam-malam berikutnya, aku kembali memanjatkan doa. Tapi kali ini berbeda.
“Ya Rabb, jika rasa ini adalah karunia, jaga ia dalam koridor-Mu. Jika ia akan menyesatkanku, maka redamkanlah. Aku tak ingin mencintai tanpa izin-Mu. Tapi bila benar dia adalah takdir yang Kau tulis untukku, maka tuntunlah kami untuk saling menjaga.”
Sejak hari itu, aku mulai melangkah lebih hati-hati. Memperbaiki cara berpakaian, cara berbicara, dan tentu saja cara mencintai. Aku masih Fitri, tapi Fitri yang sedang tumbuh. Fitri yang sedang berusaha.
Rumah singgah itu menjadi saksi—betapa aku mulai mengenali diriku sendiri. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sendiri.
Bukan karena aku sudah sepenuhnya baik, bukan karena aku sudah suci. Tapi karena aku tahu, di jalan pulang menuju Tuhan, aku tidak berjalan sendirian. Ada cinta yang kujaga diam-diam, ada anak-anak yang menuntunku pada makna syukur, ada teman-teman yang meneladankan keikhlasan.
Dan ada aku—yang akhirnya berani berharap, bahwa mungkin... Allah juga sedang menungguku.

