Rabu, 23 Juli 2025

Cerita Lahiran: Hari Ketika Daisha Lahir ke Dunia

(oleh Gina – catatan kecil untuk Daisha, kelak)

Tanggal 4 Juni 2021, aku resmi menjadi seorang ibu. Hari itu seorang bayi cantik seberat 3,4 kg dan panjang 49 cm, lahir ke dunia lewat proses persalinan yang begitu syahdu: persalinan normal dengan jahitan.

Sebelum Daisha lahir, jujur, aku takut. Takut luar biasa.
Takut sakit. Takut dijahit. Bahkan pernah terbayang, kalau kontraksi datang, mungkin aku bakal cakar-cakar suami saking paniknya.
Tapi… semua itu tidak terjadi.

Aku menjalani persalinan normal dengan jahitan, tapi ternyata rasa takutku dikalahkan oleh keberanian yang seketika datang. Ketika kontraksi datang dan pembukaan mulai terasa, aku masih bisa duduk tenang. Bahkan saat pembukaan 4, aku masih bisa ngobrol santai, meskipun ya… nyeri itu tetap ada. Tapi ternyata, tubuhku dan pikiranku lebih siap dari yang pernah kubayangkan.

Ada seorang ibu di ruang bersalin yang sempat menghampiri dan berkata, “Lho, ini udah bukaan 4 kok kamu nggak menangis?” Aku senyum saja, malu menjawab. Dalam hati aku hanya bilang: Aku juga kaget, Bu… aku juga kira aku bakal panik.

Saat akhirnya masuk ke tahap mengejan, aku cuma bisa menggenggam tangan suamiku sambil istigfar. Nggak ada drama. Nggak ada teriakan. Nggak ada amukan seperti yang sering kutonton di sinetron. Hanya ketegangan yang sunyi dan doa yang terus terucap.

Dan akhirnya…
Tangisan pertama itu terdengar.
Lembut. Lantang.
Dan aku menangis. Tapi bukan karena sakit,
melainkan karena rasa syukur yang tak bisa aku bendung.


---

Dua Hari Tanpa ASI

Setelah Daisha lahir, babak baru dimulai. Dua hari pertama… ASI-ku belum keluar. Aku sempat panik, merasa gagal. Bahkan ada momen ketika aku bertanya dalam hati, “Kok tubuhku belum bisa memberi apa yang dia butuhkan?”

Daisha sempat diberi susu formula. Tapi aku tetap berusaha.
Aku mencoba pijat laktasi — dan ya ampun, itu sakitnya bukan main. Tapi dari rasa sakit itu, datanglah hadiah besar: ASI pertamaku keluar.

Mulai hari itu, aku bisa menyusui Daisha. Hari demi hari kami jalani, penuh pelukan, penuh keajaiban kecil. Sampai akhirnya menyusui menjadi bagian dari hidup kami selama dua tahun penuh.


---

Penutup

Kadang aku merasa sungkan menceritakan ini. Karena aku tahu, setiap ibu punya perjalanan yang berbeda. Ada yang melalui operasi caesar, ada yang berjuang lama di ruang bersalin, ada yang ASI-nya tidak keluar sama sekali.

Tapi hari ini, aku menulis ini bukan karena aku merasa lebih hebat dari ibu lain. Aku menulis ini karena aku ingin Daisha tahu, suatu hari nanti, bahwa sejak hari pertama dia datang ke dunia, ia telah mengajarkan banyak hal pada ibunya — termasuk arti kekuatan, keberanian, dan rasa syukur yang mendalam.

Semua ini terjadi bukan karena aku luar biasa,
tapi karena Allah memampukan.
Karena Daisha menguatkan.
Dan karena aku memilih untuk percaya — bahwa tubuhku, meski takut, bisa melahirkan dengan tenang.

Untuk para ibu lain di luar sana:
Perjalananmu sah, valid, dan berharga.
Kita mungkin punya cerita yang berbeda, tapi cinta kita tetap sama: untuk anak-anak yang Allah titipkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar