Senin, 17 November 2025

Surat Dari Mama untuk Daisha: tentang Menjadi Dewasa

 Daisha sayang,


Mama nulis ini pelan-pelan ya, sambil mikir tentang hidup dan tentang kamu. Suatu hari nanti kalau kamu baca, mungkin kamu udah besar, dan Mama cuma mau kamu tahu satu hal: jadi dewasa itu ternyata nggak sesederhana yang dulu Mama bayangkan.


Waktu Mama kecil, Mama dekat banget sama Nenek. Hampir ke mana-mana bareng. Rasanya aman aja kalau ada Nenek, meskipun di rumah kita nggak begitu pakai bahasa cinta yang pelukan atau kata-kata manis. Tapi tetap aja, Nenek itu rumah buat Mama. Tempat Mama nempel, tempat Mama bersandar.


Terus waktu Mama makin gede, pelan-pelan perannya berubah. Tiba-tiba Mama harus mikirin hal-hal yang dulu nggak pernah Mama kepikiran. Kayak ngingetin Nenek buat terapi karena kakinya cedera. Ngingetin vitamin, ngelarang dia terlalu capek (padahal Mama tahu banget Nenek itu susah diem). Terus Mama juga harus ingatkan Kakek minum obat darah tinggi tiap hari.

Dan lucunya, semua itu Mama pikirin walaupun Mama nggak selalu di rumah.


Kadang Mama mikir, "Oh, jadi gini ya sayang sama orang tua pas udah gede?"

Nggak lagi tentang minta ditemenin atau minta dibuatin ini-itu. Tapi tentang bikin mereka tetap sehat, tetap aman, tetap ada. Rasanya tuh kayak jadi anak dan jadi penjaga di waktu yang sama.


Terus Daisha datang ke dunia.

Dan semuanya berubah lebih banyak lagi.


Sejak kamu ada, Mama belajar cara sayang yang lebih lembut. Mama pengen kamu tumbuh tahu kalau kamu boleh cerita, boleh nangis, boleh marah, boleh bingung. Kamu boleh bersandar. Kamu nggak harus kuat terus. Kamu nggak harus nutupin apa yang kamu rasain. Mama pengin kamu tahu kalau rumah itu bukan cuma tempat kita tinggal, tapi tempat kamu diterima apa adanya.


Kamu bikin Mama belajar ulang banyak hal tentang hidup. Tentang keluarga. Tentang kasih sayang yang nggak otomatis harus mengikuti pola lama. Kamu bikin Mama pengin jadi lebih baik—lebih lembut, lebih hadir, lebih ngerti ke kamu.


Nanti kalau kamu besar dan kamu ngerasain sendiri gimana jadi dewasa, Mama cuma mau kamu ingat: kadang hidup itu berat, kadang bikin bingung, dan nggak apa-apa kok kalau kamu merasa gitu. Semua orang juga ngerasain. Dan itu normal.


Yang penting, Daisha sayang…

kamu selalu boleh bersandar pada Mama dan Papa.

Kapan pun.

Sampai kapan pun.


Kamu nggak harus jalan sendiri.


Dengan cinta yang selalu ada,

Mama

Rabu, 23 Juli 2025

Proses Toilet Training Daisha

(Cerita kecil tentang kemandirian pertama dan dukungan cinta dari rumah)


Setelah masa menyusui dan menyapih lewat dengan damai, datang lagi tantangan baru yang bentuknya kecil tapi artinya besar: toilet training.


Waktu itu usia Daisha sekitar 2 tahun 3 bulan. Sebenarnya ini bukan mulai dari nol, karena sebelum 2 tahun Daisha sudah beberapa kali pup tanpa popok. Tapi untuk pipis, dia masih sepenuhnya mengandalkan diaper.


Awal Mula: Mengenal Sinyal Tubuh


Kami tidak langsung melepas popok begitu saja. Pelan-pelan saja, Gina dan Papa mulai mengenalkan rasa ingin pipis, memberikan isyarat, dan membiasakan Daisha untuk bilang sebelum terlambat. Kami coba bikin rutinitas, pasang jadwal, dan memberikan banyak contoh.


Kadang berhasil, kadang tidak. Kadang Daisha berhasil bilang tepat waktu, kadang karpet basah, kadang celana harus langsung dicuci, bahkan tempat tidur juga pernah kena. Tapi kami sudah tahu itu bagian dari perjalanan, jadi tidak ada marah-marah. Yang ada justru pelukan, tawa kecil, dan “gak apa-apa, coba lagi nanti ya.”


Lebih baik membersihkan dan tertawa, daripada membuat Daisha merasa bersalah.


Dukungan dari Papa


Hal yang paling bikin Mama bersyukur adalah Papa selalu ada. Dia ikut mengganti seprai, menenangkan Daisha kalau lagi sedih karena “kecolongan”, dan sering duduk di lantai sambil berkata, “Gak apa-apa, coba lagi nanti ya, Sayang.”


Bukan cuma bantu secara fisik, tapi juga jadi penyemangat yang tidak capek-capek mendukung. Rasanya Mama tidak sendirian. Dan Daisha tumbuh dalam rumah yang penuh dukungan lembut dari dua orang yang sayang sekali padanya.


Hasilnya


Akhirnya Daisha berhasil toilet training dalam waktu kurang dari seminggu. Entah lima hari atau tujuh hari—kami lupa pastinya. Yang kami ingat justru hal-hal kecil yang hangat: ekspresi bangga saat ia berhasil bilang, larinya yang kecil menuju kamar mandi, dan senyum lebarnya sambil berkata, “Udah pipis, Ma!”


Rasanya luar biasa. Bukan karena bebas popok, tapi karena melihat Daisha percaya diri. Karena kami melihat langsung bagaimana ia menaklukkan salah satu tahap penting hidupnya dengan cara yang lembut, pelan, tapi pasti.



---


Untuk Daisha

Tidak ada proses yang terlalu kecil untuk dirayakan, Nak. Bahkan belajar pipis sendiri pun adalah langkah besar—untukmu, dan untuk Mama Papa yang masih terus belajar jadi orang tua.


Terima kasih sudah berusaha setiap hari, sudah percaya sama kami, dan sudah mau mencoba lagi walaupun kadang gagal.


Kamu anak yang hebat. Dan Mama Papa akan selalu ada, menemanimu di setiap proses belajar berikutnya.

Perjalanan Menyusui dan Menyapih Daisha

 (Catatan sederhana dari Mama untuk Daisha)


Menyusui kamu adalah salah satu bab paling hangat dalam hidup Mama. Dari awal yang penuh harap, sampai akhir yang mengajarkan banyak hal tentang cinta dan melepaskan.


Dua Hari Pertama


Waktu itu, ASI Mama belum keluar. Dua hari pertama setelah kamu lahir, kamu sempat diberi susu formula dulu. Mama sempat merasa khawatir, bahkan sedih—takut kalau Mama tidak bisa memberi yang terbaik.


Tapi setelah Mama pijat laktasi—meski sakitnya luar biasa—ASI pun mulai keluar. Saat itu, rasanya seperti keajaiban kecil yang hadir di tengah rasa lelah dan harap. Dari situ, perjalanan menyusui kita pun dimulai.


Dua Tahun Menyusui


Daisha menyusu langsung dari Mama sampai usia dua tahun. Kamu menyusu sesukanya—tidak terus-menerus menempel, tapi tahu kapan butuh rasa nyaman.


Mama masih ingat, kamu tidak pernah menggigit selama menyusu. Kamu begitu lembut dan penuh pengertian. Rasanya, setiap sesi menyusu itu bukan hanya tentang memberi makan, tapi juga berbagi kehangatan dan rasa aman. Kadang kamu tertidur dalam pelukan, kadang cuma ingin sebentar, lalu melanjutkan bermain.


Menyapih: Melepas dengan Lembut


Sekitar satu hingga dua bulan sebelum usia dua tahun, Mama mulai mengurangi frekuensinya. Kita mulai dari menyapih waktu tidur siang, lalu malam. Biasanya, di masa akhir menyusu, kamu hanya menyusu saat mau tidur atau saat bepergian.


Hari pertama dan kedua setelah benar-benar disapih, kamu menangis. Mama tahu itu bukan tangisan marah, tapi karena bingung. Jadi Mama tetap peluk kamu erat-erat. Menemani tidurmu, mengusap punggungmu, membisikkan bahwa semuanya baik-baik saja.


Ajaibnya, setelah itu kamu bisa mengerti. Masih ada sedih sedikit, tapi kamu menerima prosesnya. Kita berpisah dari rutinitas menyusu tanpa drama besar, tanpa paksaan. Dengan lembut, kamu belajar lepas. Akhir Mei 2023, kamu resmi berhenti menyusu.



---


Untuk Daisha


Setiap perjalanan menyusui berbeda. Ada yang singkat, ada yang panjang. Ada yang penuh tantangan, ada juga yang sederhana. Tapi semuanya sah. Semuanya bentuk kasih sayang.


Buat Mama, menyusui adalah salah satu bentuk ikatan paling alami dan dalam. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk cinta. Ada banyak cara Mama mencintaimu, dan banyak cara anak-anak lain dicintai oleh orang tuanya.


Terima kasih sudah menjadi teman belajar yang sabar, Daisha. Terima kasih sudah tumbuh bersama Mama, pelan-pelan, dengan cara yang sederhana dan hangat.

Cerita Lahiran: Hari Ketika Daisha Lahir ke Dunia

(oleh Gina – catatan kecil untuk Daisha, kelak)

Tanggal 4 Juni 2021, aku resmi menjadi seorang ibu. Hari itu seorang bayi cantik seberat 3,4 kg dan panjang 49 cm, lahir ke dunia lewat proses persalinan yang begitu syahdu: persalinan normal dengan jahitan.

Sebelum Daisha lahir, jujur, aku takut. Takut luar biasa.
Takut sakit. Takut dijahit. Bahkan pernah terbayang, kalau kontraksi datang, mungkin aku bakal cakar-cakar suami saking paniknya.
Tapi… semua itu tidak terjadi.

Aku menjalani persalinan normal dengan jahitan, tapi ternyata rasa takutku dikalahkan oleh keberanian yang seketika datang. Ketika kontraksi datang dan pembukaan mulai terasa, aku masih bisa duduk tenang. Bahkan saat pembukaan 4, aku masih bisa ngobrol santai, meskipun ya… nyeri itu tetap ada. Tapi ternyata, tubuhku dan pikiranku lebih siap dari yang pernah kubayangkan.

Ada seorang ibu di ruang bersalin yang sempat menghampiri dan berkata, “Lho, ini udah bukaan 4 kok kamu nggak menangis?” Aku senyum saja, malu menjawab. Dalam hati aku hanya bilang: Aku juga kaget, Bu… aku juga kira aku bakal panik.

Saat akhirnya masuk ke tahap mengejan, aku cuma bisa menggenggam tangan suamiku sambil istigfar. Nggak ada drama. Nggak ada teriakan. Nggak ada amukan seperti yang sering kutonton di sinetron. Hanya ketegangan yang sunyi dan doa yang terus terucap.

Dan akhirnya…
Tangisan pertama itu terdengar.
Lembut. Lantang.
Dan aku menangis. Tapi bukan karena sakit,
melainkan karena rasa syukur yang tak bisa aku bendung.


---

Dua Hari Tanpa ASI

Setelah Daisha lahir, babak baru dimulai. Dua hari pertama… ASI-ku belum keluar. Aku sempat panik, merasa gagal. Bahkan ada momen ketika aku bertanya dalam hati, “Kok tubuhku belum bisa memberi apa yang dia butuhkan?”

Daisha sempat diberi susu formula. Tapi aku tetap berusaha.
Aku mencoba pijat laktasi — dan ya ampun, itu sakitnya bukan main. Tapi dari rasa sakit itu, datanglah hadiah besar: ASI pertamaku keluar.

Mulai hari itu, aku bisa menyusui Daisha. Hari demi hari kami jalani, penuh pelukan, penuh keajaiban kecil. Sampai akhirnya menyusui menjadi bagian dari hidup kami selama dua tahun penuh.


---

Penutup

Kadang aku merasa sungkan menceritakan ini. Karena aku tahu, setiap ibu punya perjalanan yang berbeda. Ada yang melalui operasi caesar, ada yang berjuang lama di ruang bersalin, ada yang ASI-nya tidak keluar sama sekali.

Tapi hari ini, aku menulis ini bukan karena aku merasa lebih hebat dari ibu lain. Aku menulis ini karena aku ingin Daisha tahu, suatu hari nanti, bahwa sejak hari pertama dia datang ke dunia, ia telah mengajarkan banyak hal pada ibunya — termasuk arti kekuatan, keberanian, dan rasa syukur yang mendalam.

Semua ini terjadi bukan karena aku luar biasa,
tapi karena Allah memampukan.
Karena Daisha menguatkan.
Dan karena aku memilih untuk percaya — bahwa tubuhku, meski takut, bisa melahirkan dengan tenang.

Untuk para ibu lain di luar sana:
Perjalananmu sah, valid, dan berharga.
Kita mungkin punya cerita yang berbeda, tapi cinta kita tetap sama: untuk anak-anak yang Allah titipkan.

Sabtu, 21 Juni 2025

🏡 6 Tahun Menjadi Rumah: Untuk Pria yang Tak Pernah Membiarkanku Sendiri

 Apa rasanya menjadi rumah selama enam tahun?


Rasanya... seperti tahu bahwa ada seseorang yang kadang lebih dulu bangun, bukan karena kamu tak sanggup — tapi karena dia ingin menjagamu diam-diam.

Rasanya... seperti punya tangan yang tetap menggenggammu, bahkan saat kamu sedang sibuk menggenggam banyak hal sendirian.


Enam tahun bukan waktu yang sebentar.

Tapi aku tak pernah merasa sendiri menjalaninya.

Karena kamu ada — tidak dengan kata-kata besar, tapi dengan tindakan kecil yang membuatku merasa berarti.


Aku pernah takut, menjadi istri akan membuatku kehilangan diriku.

Ternyata tidak.

Karena kamu bukan suami yang memintaku untuk berubah.

Kamu adalah suami yang menemani prosesku bertumbuh.


Kamu adalah laki-laki yang diam-diam menyuapi anak saat aku tak sempat duduk.

Yang membawa pulang kue kecil dan membuatnya terasa seperti dunia paling manis.

Yang tahu kapan harus mengambil alih tanpa membuatku merasa gagal.


Kamu adalah rumah juga untukku.

Dan itulah kenapa aku tetap ingin menjadi rumah untuk kamu.

Bukan rumah yang sempurna,

tapi rumah yang selalu membuka pintu,

menyediakan peluk,

dan tak pernah berhenti belajar mencintai.


6 tahun ini, aku tak hanya membangun pernikahan.

Aku membangun versi diriku yang paling utuh — karena bersamamu.

Karena kamu tidak pernah membuatku merasa bersaing.

Kamu membuatku merasa cukup.


Jika suatu hari anak kita bertanya,

“Kenapa Mama tetap bertahan dalam pernikahan ini?”

Aku akan jawab:

“Karena Papa bukan hanya pasangan hidup Mama — tapi juga tempat Mama pulang, bahkan saat Mama lelah menjadi rumah.”


Selamat ulang tahun pernikahan ke-6 untuk kita.

Terima kasih sudah memilihku — setiap hari.

Dan terima kasih...

karena tidak pernah membiarkanku berdiri sendirian.


— Istrimu,

yang jatuh cinta padamu, bahkan setelah enam tahun.