Sabtu, 16 Agustus 2014

Jangan Berakhir

Sunyi. Hanya tarikan napas Alga yang terdengar di antara keheningan sore itu. Ia duduk menunduk, tepat di samping Fia yang sejak tadi hanya menatap tanah. Tak ada sapa, tak ada tawa, tak ada topik remeh yang biasa mereka bicarakan. Ini bukan pertemuan seperti biasanya. Entah kenapa, semuanya terasa salah.

Alga mengalihkan pandangannya, mencoba memecah diam. “Fi... kita kenapa?”

Fia mengerutkan kening, pelan menjawab, “Kenapa apanya?”

“Aku ngerasa kita... nggak kayak dulu.”

“Aku juga ngerasa gitu.”

“Lalu menurut kamu... apa yang beda?”

Fia menatap Alga sejenak. “Kamu dulu yang jawab.”

“Kamu yang aku tanya duluan,” Alga balas dengan senyum kaku.

Fia menghela napas. “Aku cuma pengen denger dari kamu.”

Alga mengangguk pelan. “Aku ngerasa kita makin jarang ngobrol, makin kaku. Nggak sehangat dulu.”

“Kamu ngerasa hubungan kita udah nggak seru?”

“Aku nggak tahu... mungkin iya.”

Fia menggigit bibir bawahnya. “Aku bosan, Ga. Hubungan kita terlalu datar. Nggak ada gregetnya. Kadang... aku bahkan ragu kamu masih cinta aku atau nggak.”

Deg.

Alga menunduk. Kata-kata itu menusuk, tapi ia tahu Fia nggak bohong.

“Kalau kamu ngerasa kayak gitu... kamu maunya gimana?”

Fia ragu sejenak. “Aku pikir... kita butuh jeda.”

“Putus?”

“Ya... tapi bukan berarti beneran selesai. Cuma... nggak usah ada status dulu. Jalan masing-masing, liat nanti gimana.”

Alga terdiam lama. Lalu pelan menjawab, “Yaudah.”

Fia menatapnya, seakan tak percaya Alga akan setenang itu. “Cuma ‘yaudah’?”

“Itu keinginan kamu. Aku juga ngerasa kita butuh waktu.”

“...Aku pulang dulu.”

“Mau aku anter?”

Fia tersenyum miris. “Papa nggak suka kalau aku dijemput tapi nggak dianterin pulang. Jadi, iya. Anterin.”


---

Fia duduk sendirian di kamar malam itu, matanya menatap kosong ke layar ponsel. Pikirannya kalut. Dia mengira Alga akan menolak, akan marah, atau setidaknya bertanya kenapa. Tapi tidak. Alga hanya menyetujui, seperti tak keberatan kehilangan hubungan ini.

Sementara itu, Alga juga diam di kamarnya. Dia menatap langit-langit, mencoba mencerna semuanya. Ia tak ingin hubungan ini berakhir. Tapi bagaimana caranya memperjuangkan sesuatu yang bahkan Fia sendiri ragu?


---

Beberapa hari kemudian, Fia melihat sesuatu dari kejauhan. Alga. Bersama seorang perempuan. Mereka duduk berdampingan, tertawa kecil, seperti tak terjadi apa-apa. Hati Fia mencelos. Dia ingin marah. Tapi marah sebagai siapa?

Alga pun sebenarnya sadar Fia memperhatikannya. Ia bisa menangkap perubahan di wajah mantannya—ya, mantan? Atau masih?—dari kejauhan. Fia mengalihkan wajah, pura-pura tidak peduli. Tapi jelas sorot matanya redup. Luka itu nyata.

Fia pun membalas. Ia menghampiri teman lelaki yang kebetulan lewat, menyapanya, tertawa, seolah sedang akrab. Alga menatap mereka dari jauh, tak lama kemudian ia berdiri dan pergi sendiri. Perempuan tadi? Bukan siapa-siapa. Sekadar teman.


---

Beberapa menit kemudian, ponsel Fia bergetar.
Satu pesan masuk.

Alga: Kamu ada waktu malam ini? Kita ketemu sebentar di café biasa.

Fia menatap pesan itu lama. Jemarinya sempat ragu... lalu mengetik perlahan.

Fia: Jam berapa?


---

Di sebuah kafe kecil sore itu...

Alga sudah duduk menanti, wajahnya tegang. Begitu Fia datang dan duduk di hadapannya, mereka hanya saling menatap beberapa detik sebelum Fia membuka suara.

“Ngajak ketemu, tapi diam aja?” Fia menyilangkan tangan.

“Aku kesel,” ucap Alga pelan, tapi tajam.

“Kesel? Karena apa?”

“Karena kamu... ngobrol akrab banget sama cowok itu. Nggak mikir malu apa?”

Fia tersentak. “Maksud kamu aku nggak tau malu? Kamu pikir aku seneng digituin?”

“Ya aku lihat sendiri kalian ngobrol ketawa-ketawa. Kamu keliatan nyaman banget.”

Fia menahan napas, menunduk sejenak, lalu menatap tajam. “Terus kamu? Duduk bareng cewek itu, nggak ada jarak, santai banget.”

“Dia yang nyamperin aku, bukan aku yang mulai.”

“Tapi kamu nggak nolak juga.”

“Karena... aku pengen lihat kamu cemburu.”

Fia terdiam. Lalu dengan suara nyaris berbisik, “Jadi kamu sengaja?”

“Aku cuma... pengen tahu masih ada rasa apa nggak.”

Fia menarik napas panjang. “Jadi kita cuma main tebak-tebakan perasaan sekarang?”

Alga menyentuh meja, menahan gugup. “Fi, aku nggak tahan. Aku masih sayang. Aku nggak mau semuanya berakhir.”

Fia tersenyum tipis, getir. “Aku juga nggak pernah niat mengakhiri. Tapi waktu aku bilang bubar, kamu setuju gitu aja.”

“Aku setuju di mulut, tapi hatiku nolak.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Gengsi. Sama kayak kamu sekarang.”

Hening sejenak. Lalu mereka tertawa kecil bersama.

“Kita baru delapan hari bubaran,” kata Fia.

“Delapan hari yang terasa kayak delapan bulan.”

“Jadi... kita mulai lagi?” tanya Fia.

“Bukan mulai lagi,” jawab Alga sambil menatapnya lekat. “Kita lanjutin, tapi lebih dewasa. Nggak ada drama bodoh kayak kemarin. Deal?”

“Deal.”

Mereka tersenyum. Kafe itu masih sama, tapi rasanya berbeda. Hari itu, mereka memutuskan: tidak akan ada akhir, kecuali jika itu bernama masa depan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar